“Peradaban Islam’ bukanlah terjadi pada masa kejayaan kekaisan Ottoman
Turki, sebab itu adalah peradaban Turki. Justru “Peradaban Islam”
sebenarnya adalah masa keemasan Islam jauh sebelum kekaisaran Ottoman
muncul di panggung dunia. Mari kita lihat masa-masa keemasan Islam itu.
Peradaban-peradaban besar di masa lampau mewariskan bukti atas
prestasi-prestasi mereka. Peradaban Roma, Yunani, Maya dan China.
Peradaban Mesir melahirkan Pyramid yang sekarang dikagumi dunia, China
dengan tembok chinanya, dan lainnya. Lantas bagaimana dengan “Peradaban
Islam”. Contoh sisa2 peradaban Islam adalah Mesjid Ummayah di Damascus?
Ini adalah bekas Gereja Kristen
yang berhasil diambil alih umat Islam dan berhasil diubah menjadi
mesjid. Tanpa peradaban yang tinggi, tentu pengambil alihan ini tidak
akan terjadi.
Peradaban-peradaban Islam memiliki prestasi-prestasi besar yang jelas
asal-usulnya. Peradaban Islam dimulai dengan wilayah Mekkah dan
Medinah. Di sana kita bisa lihat sisa-sisa peradaban Islam yang berupa
Kabah yang berwujud kotak kubus berwarna hitam, dan batu hitam yang
sampai saat ini masih dapat kita saksikan dan cium ketika kita melakukan
kewajiban berhaji. Dan peradaban Islam ini kini semakin besar dengan
dilakukannya renovasi besar2an di sekitar lingkungan Kabah yang menjadi
kiblat kaum muslim untuk beribadah. Peradaban Islam memungkinkan
dibangunnya hotel2 besar di sekitar Kabah lengkap dengan segala
fasilitas modernnya. Sekali lagi, peradaban Islam terbukti memberi
banyak manfaat bagi dunia.
Contoh peradaban masa keemasan Islam adalah juga dapat kita saksikan di
masa penjajahan di Spanyol misalnya. Umat Islam berhasil mengambil alih
bangunan-bangunan milik orang Spanyol yang kafir. Coba saja kalau
peradaban Islam tidak berhasil masuk Spanyol pada masa itu, tentu
Spanyol tidak akan semaju seperti sekarang ini.
Peradaban Islam terus berkembang dengan begitu sehat dan umatnya semakin
memiliki kemampuan berpikir secara kritis. Akhirnya peradaban Islam
berhasil menemukan konsep “Nol” yang tanpanya tidak mungkin ada
komputer. Konsep ‘nol’ bukanlah berasal dari India seperti yang
didengung2kan selama ini, melainkan oleh Islam semasa pendudukan Islam
di daratan India. Kalau saja umat Islam membunuh para orang India yang
menemukan angka “Nol” ini, tentu angka “Nol” tidak akan pernah ada, jadi
wajarlah kalau Islam dapat disebut sebagai punya andil besar dalam
penemuan angka “Nol”. Demikian juga angka2 ‘Arab’ lainnya yang diperoleh
ketika Islam menguasai daerah2 kafir di Babylonia.
Islam menerjemahkan karya-karya filsuf Yunani: Socrates, Aristotle,
dll., dan tanpa terjemahan yang dilakukan oleh umat Islam maka peradaban
Eropa akan lenyap dan Eropah tidak akan semaju seperti sekarang ini.
Jadi wajar orang Eropah harus berterima kasih kepada peradaban Islam.
Terjemahan-terjemahan tersebut dibuat di negara-negara pendudukan Islam
seperti Iraq dan Levant. Walau terjemahan2 tersebut tidak dilakukan
langsung oleh umat Islam, tetapi karena dilakukannya di negara2 yang
mayoritas Islam maka umat Islam juga harus disebut sebagai punya andil
besar bagi dibuatnya terjemahan2 tersebut. Seperti kita tahu bahwa
terjemahan2 tersebut dilakukan melalui tangan2 orang Kristen Assyria
yang hidup dibawah perlindungan Islam. Coba kalau umat Islam tidak
melindungi orang2 Kristen Assyria ini, tentu terjemahan2 tersebut tidak
akan pernah ada dan Eropah tidak akan semaju seperti sekarang ini.
Peradaban Islam adalah peradaban di mana kita memasukkan budaya Arab di
dalam kehidupan sehari2 kita. Kebudayaa2 penduduk Asli bukanlah budaya
Islam jadi harus dibuang. Untung saja dulu peradaban islam belum
mengenal yang namanya bom, kalau sudah mengenal pasti Piramid Giza di
Mesir tidak ada lagi karena pyramid bukanlah budaya Islam melainkan
kafir laknatullah. Tentu hal ini tidak berlaku pada patung Bamiyan
Buddha raksasa di Afghanistan yang berusia 2500 tahun. Sewaktu
peradaban Islam telah belajar menggunakan bahan peledak, kita bisa
dengan gampang menghancurkannya sambil memuji kebesaran Allah SWT.
Peradaban lain hanya bisa menyaksikan penghancuran itu dengan mulut
ternganga, karena peradaban2 lain ini begitu tololnya, karena mengagumi
benda mati seperti patung Buddha. Ribuan kuil-kuil Hindu kita berhasil
rubah menjadi mesjid-mesjid, dan masih bisa kita saksikan sampai saat
ini. Inilah bukti2 masa peradaban Islam
Memuat berbagai makalah yang dinilai memiliki peran bagi mahasiswa dan mahasiswi dan materi yang di muat di sekolah tingkat SLTP,SLTA maupun universitas serta soal soal yang di butuhkan untuk latihan dalam meraih kemampuan secara maksimal demi meraih prestasi
Sunday, June 29, 2014
Saturday, June 21, 2014
makalah kurikulum
BAB I
HAKIKAT KURIKULUM
- Pengertian kurikulum
- Peran dan Fungsi Kurikulum
- peran konservatif yaitu melestrikan berbagai nilai budaya senagai warisan masa lalu
- peran kreatif yaitu mengembangkan setiap potensi yang dimiliki siswa
- peran kritis dan evaluatif yaitu menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yang di anggap bermanfaat untuk kehidupan anak didik
Di lihat dari cakupan tujuannya menurut McNeil (1990), yaitu :
- fungsi pendidikan umum
- suplementasi
- eksplorasi
- keahlian
maka jelaslah kurikulum berfungsi untuk setiaporang atau lembaga yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung.
Berkaitan dengan kurikulum, Alexander Inglis (1990) mengemukakan enam fungsi kurikulum untuk siswa:
- fungsi penyesuaian
- fungsi integrasi
- fungsi difersiasi
- fungsi persiapan
- fungsi pemilihan
- fungsi diasnogtik
- Kurikulum dan Pengajaran
- model dualistik
- model berkaitan
- model konsentris
- model siklus
- Kurikulum ideal dan kurikulum aktual
- Kurikulum tersembunyi
- peran guru dan pengembangan kurikulum
BAB II
LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
- Hakikat pengembangan kurikulum
- Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
- prinsip relevansi
- prinsip fleksibilitas
- prinsip kontinuitas
- efektifitas
- efisiensi
- Landasan pengembangan kurikulum
ada empat fungsi filsasat dalam proses pengembangan kurikulum, yaitu:
- dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan
- dapat menentukan isi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
- dapat nementukan cara pencapaian tujuan
- dapat menentukan tolak ukur keberhasilah proses pendidikan
- psikologi perkembangan anak
a. sensorimotor
b. praopersional
c. operasional konkret
d. operasional formal
- landasan sosiologis-teknologis dalam pengembangan
- kekuatan sosial yang dapat mempengaruhi kurikulum
- kemajuan IPTEK sebagai bahan pertimbangan penyusunan kurikulum
BAB III
DESAIN KURIKULUM
A. Desain kurikulum disiplin ilmu
Terdapat tiga bentuk organisasi kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu, yaitu:
- subjec centered curriculum
- correlated curriculum
- integrated curriculum
B. Desain kurikulum berorientasi pada masyarakat
Ada tiga perspektif desain kurikullum yang berorientasu pada kehidupan masyarakat, yaitu:
- perspektif status quo
- perspektif pembaharuan
- perspektif masa depan
C. Desain kurikulum berorientasi pada siswa
Desain kurikulum yang berorientasi pada anak didik, dapat dilihat minimal dari dua perspektif, yaitu:
- perspektif kehidupan anak di masyarakat
- perspektif psikologi.
- Desain kurikulum teknologis
- sisi penerapan hasil-hasil teknologi
- penerapan teknologi sebagai suatu sistem
Organisasi bahan pelajaran dalam kurikulum teknologis memiliki ciri-ciri:
- pengorganisasian materi kurikulum berpatokan pada rumusan tujuan
- materi kurikulum disusun secara berjenjang
- materi kurikulum disusun dari mulai yang sederhana menuju yang kompleks
Efektifitas dan keberhasilan implementasi kurikulum teknologi hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
- kesadaran akan tujuan
- mempraktikan kecakapan sesuai dengan tujuan
- siswa perlu diberi tahu hasil yang dicapai
BAB IV
PENDEKATAN DAN MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM
- Pendekatan pengembangan kurikulum
- pendekatan topdown ialah pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para administrator pendidikan
- pendekatan grass roots ialahpengembangan kurikulum dimulai dari lapangan atau implementator, kemudian menyebar pada lingungan yang lebih luas
- Model-model pengembangan kurikulum
Manfaat-manfaat model,yaitu:
- menjelaskan aspek perilaku dan interaksi manusia
- mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil penelitian
- menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks
- pedoman untuk melakukan kegiatan
1. Model tyler
Model pengembangan tyler bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu instuisi pendidikan. Menurut Tyler ada 4 halyang fundamental untuk mengembangkan kurikulum, yaitu:
- menentukan tujuan
- menentukan pengalaman belajar
- mengorganisasi pengakaman belajar
- evaluasi
2. Model Taba
Menurut Hilda Taba sebaiknya kurikulum dikembangkan secara terbalik, yaitu dengan pendekatan induktif. Ada 5 langkah pengembangan model Taba, yaitu:
- menghasilkan unit-unit percobaan
- menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data yang valid
- merivisi unit eksperimenberdasarka data yang didapat
- mengembangka keseluruhan kerangka kurikulum
- implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji
3. Model Oliva
Menurut Oliva suatu model kurikulum harus bersifat simpel, komprehensif dan sistematik. Menurutnya model ini dapat dikembangkan kedalam 3 dimensi, yaitu:
- penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus
- membuat keputusan dalam merancang program kuriklum
- mengembangka program pembelajaran
- Model Beauchamp
- menetapkan wilayah yang akan melakukan suatu perubahan kurikulum
- menetapkan orng-orang yang terlibat dalam proses pengembangan kurikulun
- menetapkan prosedur yang aka ditempuh
- implementasi kurikulum
- melaksanakan evaluasi kurikulim
- Model Wheeler
- menentukan tujuan umum dan tujuan khusus
- menentuka pengalaman belajar siswa
- menentukan isi atau materi sesuai dengan pengalaman
- mengorganisasi pengalaman belajardengan isi atau materi belajar
- melakukan evaluasi
6. Model Nichools
Howard Nichools mengatakan bahwa oendekatan pengembangan kurikulum terdiri atas elemen-elemen kurikulum yang membentuk siklus. Ada 5 langkah pengembangannya, yaitu:
- analisis situasi
- menentukan tujuan khusus
- menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran
- menentukan dan mengorganisasi metode
- evaluasi
7. Model Dynamic Skilbeck
Menurut Skilbeck model dynamic adlah mode pengembangan kurikulum pada level sekolah. Dan langkah-langkahnya yaitu:
- menganalisis situasi
- memformulasikan tujuan
- menyusun program
- interpretesi dan implementasi
- monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi
BAB V
PENGEMBANGAN TUJUAN DAN ISI KURIKULUM
Sistem kurikulum terbentuk oleh 4 komponen, yaitu:
- tujuan
- isi kurikulum
- metode
- evaluasi
B. Pengembangan tujuan kurikulum
Perumusan tujuan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dala sebuah kurikulm
1. Klasifikasi tujuan
Menurut Bloom bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat digolongkan kedalam 3 domain, yaitu:
- Domain kognitif
a. pengetahuan d. analisis
b. pemahaman e. sintesis
c. penerapan f. evaluasi
- Domain afektif
a. penerimaan d. mengorganisasi
b. merespons e. Karakterisasi nilai
c. menghargai
- Domain psikomotor
a. gerak refleks d. Ketermpilan fisik
b. keterampilan dasar e. Gerakan keterampilan
c. ketermpilan perseptual f. Komunikasi nondiskurtif
2. Haerarkis tujuan
Dilihat dari haerarkis tujuan pendidikan terdiri atas tujuan umum dan husus yang bersifat spesifik dan dapat diukur dan diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
- tujuan pendidikan nasional (TPT)
- tujuan institusional (TI)
- tujuan kurikuler (TK)
- tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran (TP)
C. Pengembangan materi kurikulum
Bahan atau materi kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami siswa dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
1. Sunber-sumber kurikulum adalah:
- masyarakat beserta budayanya
- siswa
- ilmu pengetahuan
2. Tahap penyeleksian materi kurikulum adalah:
- identifikasi kebutuhan
- mendapatkan bahan kurikulum
- analisis bahan
- penilaian bahan kurikulum
- membuat keputusan mengadopsi bahan
3. Jenis-jenis materi kurikulum yaitu:
- fakta
- konsep
- prinsip
- hukum
- keterampilan
4. Kriteria penerapan ateri kurikulum yaitu:
- tingkat kematangan siswa
- tingkat pengalaman anak
- tingkat kesulitan materi
BAB VI
HAKIKAT KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)
Dalam standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, Ayat 15) bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan yang disusun oleh satuan pendidikan dan dikembangkan oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
KTSP memiliki karakteristik, yaitu:
- kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu
- kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu
- kurikulum yang mengakses kepentingan daerah
- kurikulum teknologis
B. Tujuan KTSP
Dan tujuannya secara khusus yaitu:
- meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola, memberdayakan sumber daya yang tersedia
- menungkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum melalui pengambilan keputsan bersama
- meningkatkan kompetensi yan sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai
C. Dasar penyusunan KTSP
Pengembangan KTSP didasarkan pada 2 landasan pokok, yakni landasan empiris dan landasan formal. Yang menjadi landasan empirik antaranya adalah
- adanya kenyataan rendahnya kualitas pendidikan kitabaik dari proses ataupun hasil
- indonesia adalah negara yang sangat luas yang memiliki keragaman sosial budaya dengan potensi dan kebutuhan yang berbeda
- peran sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum bersifat pasif.
- Yang menjadi landasan formal, KTSP disusun dalam rangka memenuhi amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendididkan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.
D. Prinsip-prinsip pengembangan KTSP
- berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik, dan lingkungannya
- beragam da terpadu
- tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
- relevan dengan kebutuhan kehidupan
- menyeluruh dan berkesinambungan
- belajar sepanjang hayat
- seimbang antara kepentinga Nasional dan kepentingan daerah
E. Komponen KTSP
Sebagai sebuah pedoman KTSP terdiri atas 4 komponen, yakni:
- Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu pada tujuan umum pendidikan.
- Struktur program dan muatan kurikulum pendidikan dasar dan menengah tertuang dalam SI meliputi 5 kelompok mata pelajaran ( agama dan akhlak mulia, PKn dan kepribadian, IPTEK, estetika, dan jasmani kesehatan )
- kalender pendidikan
- silabus dan RPP
F. Proses penyusunan KTSP
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun KTSP, yaitu:
- analisis konteks
- mekanisme penyusunan
- kegiatan
- pemberlakuan
BABVII
PENGEMBANGAN DOKUMEN KTSP
- Dokumen satu tentang acuan pengembangan KTSP, secara lengkap dokumen tersebut adalah sebagai berikut:
A. Latar Belakang dan Dasar Pengembangan
B. Tujuan Pengembangan dan Fungsi KTSP
C. Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP
BAB 2. Tujuan pendidikan
A. Tujuan Pendidikan
B. Visi dan Misi Sekolah
C. Misi Sekolah
BAB 3. Stuktur dan Muatan Kurikulum
A. Mata pelajaran
B. Muatan Lokal
- Kegiatan Pengembangan Diri
E. Ketuntasan Belajar
F. Kenaiakan Kelas dan Kelulusan
G. Penjurusan
H. Pendidikan Kecakapan Hidup
I. Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global
BAB 4. Kalender Pendidikan
A. Minggu, hari dan jam efektif
B. Program Tahunan
C. Program semester
2. Dokumen dua berisi tentang silabus mata pelajaran berisi tentang silabus dan RPP.
Silabus adalah rancangan program pembelajaran satu atau kelompok mata pelajaran yang berisi tentan standar kompetensi. Manfaatnya sebagai pedoman dalam menyusun pelaksaan pembelajaran. Prinsip- prinsipnya yaitu:
- ilmiah - memadai
- relevan - aktual dan konstektual
- sistematis - fleksibel
- konsisten - menyeluruh
RPP adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses pembelajaran. Komponen-komponen RPP yaitu:
- tujuan pembelajaran
- materi atau isi
- strategi dan metode pembelajaran
- media dan sumber belajar
- evaluasi
BAB VIII
SISTEM PEMBELAJARAN
A. Pengertian dan kegunaan sistem pembelajaran
Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang tela ditetapkan. 3 karakteristik sistem, yaitu:
- setiap sistem mempunyai tujuan
- sistem mengandung suatu proses
- melibatkan unsur-unsur tertentu
Manfaat sistem adalah untuk merancang atau merencanakan suatu proses pembelajaran.
B. faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran
- faktor guru
- faktor siswa
- faktor sarana dan prasarana
- faktor lingkungan
C. Komponen-komponen sistem pembelajaran
Komponen-komponen tersebut yaitu:
- tujuan
- materi pelajaran
- metode atau strategi pembelajaran
- media
- evaluasi
BAB IX
MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM
1. mengajar sebagai proses penyampaian materi pelajaran, ia memiliki karakteristik:
- proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered)
- siswa sebagai objek belajar
- kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu
- tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran
2. mengajar sebagai suatu proses mengatur lingkungan
- mengajar berpusat pada siswa
- siswa sebagai subjek belajar
B. Makna mengajar
Makna pembelajaran ditunjukkan oleh beberapa ciri sebagai berikut:
- pembelajaran adalah proses berpikir
- proses pembelajaran adalah memenfaatkan potensi otak
- pembelajaran berlangsung sepanjang hayat
C. Prinsip mengajar
- berorientasi pada tujuan
- aktivitas
- individualitas
- integritas
- interaktif
- inspiratif
- menyenangkan
- menantang
- motivasi
D. Makna belajar
- belajar sebagai proses perubahan tingkah laku
- bentuk dan hasil perbuatan belajar
Menurut Gagne ada 8 tipe perbuatan belajar, yaitu:
- belajar signal
3. belajar membentuk rangkaian
4. belajar asosiasi verbal
5. belajar membedakan hal yang majemuk
6. belajar konsep
7. belajar kaidah atau belajar prinsip
8. belajar memecahkan masalah
dan menurutnya ada 5 tipe hasil balajar, yaitu:
- belajar kemahiran intelektual
- belajar informasi verbal
- belajar mengatur kegiatan intelektual
5. belajar keterampilan motorik
D. Teori-teori belajar
Berangkat dari konsep manusia yang berbeda, dalam menjelaskan terjadinya perilaku, kedua aliran teori belajar yaitu aliran behavioristik elementeristik, dan aliran kognitif wholistik, memiliki perbedaan.
1. Teori Belajar Behavioristik
ciri-cirinya, yaitu:
- mementingkan pengaruh lingkungan
- mementingkan bagian-bagian
- mengutamakan peranan reaksi
- hasil belajar terbentuk sacara mekanis
- dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
- mementingkan pembentukan kebiasaan
- memecahkan masalah dengan cara trial and error
- Yang termasuk kedalam aliran behavioristik adalah:
- koneksionisme tokohnya Thorndike
- clasical conditioning tokohnya Pavlop
- operant conditioning tokohnya Skinner
- systematic behavior Tokohnya Hull
- contigous conditioning tokohnya Guthe
2. Teori belajar kognitif
ciri-cirinya adalah:
- mementingkan apa yang ada dalam diri
- mementingkan keseluruhsn
- mengutamakanfunsi kognitif
- terjadi keseimbangan dalam diri
- tergantung pada kondisi saat ini
- mementingkan terbentuknya fungsi kognitif
- memecahkan masalah dengan cara insight
Teori-teori yang termasuk kedalam kelompok kognitif wholistik yaitu:
- teori gestalt tokohnya Kofka, Kohler, Wertheimer
- teori medan tokohnya Lewin
- tepri organismik Tokohnya Wheeler
- teori humanistik tokohnya Maslow dan Rogers
- teori konstrutivistik
BAB X
FAKTOR PSIKOLOGIS DALAM PEMBELAJARAN
A. Motivasi
1. Pengertian dan fungsi motivasi
motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri manusia yang ditandai oleh munculnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Fungsi motivasi yaitu:
- mendorong siswa untuk beraktivitas
- sebagai pengarah
2. motivasi dan kebutuhan
Morgan menjelaskan kebutuhan siswa sebagai pedoman aktivitas sebagai berikut:
- kebutuhan diri sendiri sebagai penggerak kegiatan itu sendiri
- kebutuhan karena orang lain
- kebutuhan untuk mencapai hasil
- kebutuhan untk mengatasi kesulitan
3. Jenis-jenis motivasi
Pembagian motivasi dapat dilihat dari:
- perspektif kebutuhan
- perspektif fungsional
- sifat motivasi
4. Kepuasan dan motivasi
Kondisi yang dapat dilakukan untuk memberikan kepuasan pada siswa yang dapat mendorong untuk berperilaku baik, yakni:
- imbalan hasil belajar
- rasa aman dalam belajar
- situasi lingkungan belajar
- kesempatan untuk mengembangkan diri
5. Prinsip-prinsip motivasi belajar
- pujian lebih efektif daripada hukuman
- psikologis yang bersifat dasar
- dorongan yang muncul dari dalam
- respon siswa yang sesuai dengan tujuan
- mudah menular pada orang lain
- pemahaman siswa yang telas terhadap tujuan
- minat siswa untuk menyelesaikan tugas
- berbagai macam penghargaan
6. Upaya membangkitkan motivasi belajar siswa
- memperjelas tujuan yang ingin dicapai
- membangkitkan minat siswa
- menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
- berilah pujian yang wajar
- berikan penilaian
- berikan komentar
- ciptakan persaingan dan kerjasama
B. Pengamatan dan perhatian
Dalam aktivitas pembelajaran di sekolah, guru harus menciptaka agar siswa dapat melakukan pengamatan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kesalahan dalam menapsirkan pengamatannya. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu:
- membangun struktur yang jelas
- mendekatkan siswa pada hal tang harus dipelajari
- menghubungkan aspek yang di pelajari dengan pengalaman nyata siswa
- dalam proses pembelajaran guru harus menyelesaikan bahan pelajaran dengan tingkat perkembangan siswa
- hindari hal-hal yang dapat mengganggu proses pengamatan
Bagi guru, meningkatkan perhatian siswa bisa dilakuka dengan beberapa cara, yaitu:
- penggunaan variasi suara
- pemusatan perhatian
- kebisuan guru
- mengadakan kontak pandang
- gerak guru
- variasi dalam penggunaan media dan alat pembelajaran
- variasi dalam berinteraksi
BAB XI
GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN
A. Meningkatkan Propesional Guru
- guru sebagai jabatan profesional
- mengajar sebagai pekerjaan profesional
- kompetensi profesional guru
a. kompetensi pribadi
b. kompetensi profesional
B. Optimalisasi Peran Guru dalam Proses Pembelajaran
peran-peran tersebut yaitu:
- guru sebagai sumber belajar
- guru sebagai fasilitator
- guru sebagai pengelola
- guru sebagai demonstator
- guru sebagai pembimbing
- guru sebagai motivator
- guru sebagai evaluator
BAB XII
STRATEGI PEMBELAJARAN
A. Konsep Strategi Pembelajaran
Suatu strategi pembalajaran yang diterapkan guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan, sdangkan bagaimana menjalankan strategi itu dapat ditetapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan dengan metode, dan penggunaan teknik itu setiap guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antarta guru yang satu dengan yang lain.
B. Pertimbangan dalam Pengembangan Strategi Pembelajaran
Ada beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan, yaitu:
- pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang ingin dicapai
- pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran
- pertimbangan dari sudut siswa
- dan pertimbangan lainnya yang ditinjau dari strategi itu sendiri
C. Beberapa Jenis Strategi Pilihan
- Strategi pembelajaran Ekspositori (SPE) adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secapa verbal dari guru kepada siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Prinsip-prinsipnya yaitu:
- prinsip komunikasi
- prinsip kesiapan
- prinsip berkelanjutan
Prosedur SPE, yaitu:
- persiapan – menyimpulkan
- penyajian – mengaolikasikan
- krelasi
- Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pastu dari suatu masalah yang dipertanyakan. Prinsipnya:
- prinsip berinteraksi
- prinsip bertanya
- prinsip belajar untuk berpikir
- prinsip keterbukaan
Langkah-langkahnya:
- orientasi – merumuskan masalah
- merumuskan hipotesis – mengumpulkan data
- menguji hipotesis – merumuskan kesimpulan
- Strategi pembelajaran Koopertif (SPK) adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokkan. Prinsipnya yaitu:
- tanggung jawab perseorangan
- interaksi tatap muka
- partisipasi dan komunikasi
langkah-langkah SPK:
- penjelasan materi – penilaian
- belajar dalam kelompok – pengakuan tim
BAB XIII
INOVASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
Inovasi kurikulum dan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu ide, gagasan atau tindakan-tindakan tertentu dalam bidang kurikulum dan pembelajaran yang dianggap baru untuk memecahkan masalah pendidikan.
B. Masalah Pendidikan sebagai Sumber Inovasi
1. Masalah relevansi pendidikan
- relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup siswa
- relevansi pendidikan dengan tuntutan kehidupan siswa
- relevansi kehidupan dengan dunia kerja
2. Masalah kualitas pendidikan
Rendahnya kualirtas pendidikan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:
- sisi proses adalah adanya anggapan bahwa salama ini proses pendidikan yang dibangun guru dianggap cenderung terbatas.
- Sisi hasil yaitu rendahnya kualitas pendidikan dilihat dari tidak meratanya setiap sekolah dalam mencapai rata-rata nilai ujian nasional.
3. Masalah efektiviras dan efesiensi
Suatu program pembelajaran dapat dikatakan memiliki tingkat efesiensi tinggi, manakala dengan jumlah biaya yang minimal dapat menghasilkan atau dapat mencapai tujuan yang maksimal.
4. Masalah daya tampung terbatas
Pemecahannya pemerintah harys melakukan langkah-langkah yan inovatif, yaitu langkah yang dapat menyediakan kesempatan belajar seluas-luasnya untuk mereka dengan biaya yang rendah tanpa mengurangi mutu pendidikan.
C. Difusi dan Keputusan Inovasi
Difusi adalah proses komunikasi atau saling tukar informasi tentang suatu bentuk inovasi antara warga masyarakat sasaran sebagai penerima inovasi dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu teryentu pula. Ada 2 bentuk difusi, yaitu difusi sentralisasi dan difusi desentralisasi.
Ibrahim(1988) menyatakan ada 3 tipe keputusan penerimaan penerimaan inovasi, yaitu:
- keputusan inovasi opsional adalah keputusan yang ditentukan oleh individu secara mandiri tanpa adanya pengaruh dari orang lain
- keputusan inovasi kolektif adalah keputusan yan didasarkan oleh kesepakatan bersama dari setiap kelompok masyarakat.
- Keputusan inovasi otoritas adalah keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi.
D. Hambatan-hambatan Inovasi
Ibrahim(1988) mencatat ada 6 faktor utama yan dapat menghambat suatu inovasi, yaitu:
- estimasi yang tidak tepat
- konflik dan motivasi
- inovasi tidak berkembang
- masalah finansial
- penolakan dari kelompok tertentu
- kurang adanya hubungan sosial
E. Berbagai Jenis Inovasi dalam Kurikulum dan Penbelajaran
Beberapa pembaruan (inovasi) yang telah dilakuka, antara lain:
- pemberlakuan KTSP
- penyelenggaraan sekolah lanjutan tingkat terbuka
- pengajaran melalui modul
- pembelajaran melalui komputer
BAB XIV
EVALUASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
EVALUASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN
A. Evaluasi dan Pengukuran
1. Makna evaluasi dan pengukuran
Guba dan Lincoln mendefinisikan evaluasi adalah proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Dan pengukuran adalah proses pengumpulan data yang diperlukan dalam rangka memberikan judgment yakni berupa keputusan terhadap sesuatu.
2. Fungsi evaluasi
- umpan balik bagi siswa
- untuk mengetahui ketercapain siswa dari tujuan
- nformasi mengembangkan kurikulum
- untuk pengambilan keputusan
3. Tipe evaluasi
Evaluasi selalu berhubungan dengan 2 fungsi, yaitu:
- fungsi sumatif yaitu apabila evaluasi digunakan untuk melihat keberhasilan suatu program yang direncanakan
- fungsi formatif yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk melihat kemajuan belajar siswa
B. Evaluasi Kurikulum
1. Makna evaluasi kurikulum
evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah sebagai suatu proses mengumpulkan berbagai informasi dalam rangka membuat sesuatu keputusan tentang program pendidikan.
2. Ruang lingkup evaluasi kurikulum
- evaluasi kurikulum sbagai suatu program atau dokumen
a. evaluasi tujuan pendidikan
b. evaluasi terhadap isi kurikulum
c. evaluasi terhadap strategi pembelajaran
d. evaluasi terhadap proram penilaian
- evaluasi pembelajaran sebagai implementasi kurikulum
C. Evaluasi Berbasis Kelas
1. Pengertian
penilaian berbasis kelas merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran yang dilakukan sebagai proses pengumpulan dan pemanfaatan informasi yang menyeluruh tentang hasil belajar yang diperoleh siswa untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan kompetensi seperti yang ditentukan dalam kurikulum da sebagai umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran.
2. prinsip-prinsip penilaian berbasis kelas
- motivasi – validitas
- adil – terbuka
- berkesinambungan – bermakna
- menyeluruh – edukatif
D. Jenis-jenis Evaluasi
- tes
- non tes, seperti:
a. observasi
b.wawancara
BAB XV
PENILAIAN PORTOFOLIO
A. Pengertian
Penilaian portofolio adalah penilaian terhadap karya-karya siswa selama proses pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dikumpulkan salam a priod tertentu dan digunakan untuk mementau perkembangan siswa baik mengenai pengetahuan , keterampilan maupaunsikap siswa terhadap mata pelajaran yang bersangkutan.
B. Perbedaan tes dan portofolio
1. tes
- dilakukan untuk menilai kemampuan intlektual siswa
- peran guru sangat dominan
- kriteria penilaian satu untuk semua
- keputusan berdasarkan guru
2. portofolio
- dilakukan untuk menilai kemampuan intelektual, minat sikap dan keterampilan siswa
- peserta didik ikut berperan
- kriteria penilaian ditentukan dengan karakteristik siswa
- keputusan dilakukan secara kolaboratif antara orang tua, siswa, dan guru
C. Prinsip-prinsip penilaian portofolia
- saling percaya
- keterbukaan
- kerahasiaan
- milik bersama
- kepuasan dan kesesuaian
- budaya pembelajaran
- refleksi
- berorientasi padaproses hasil
D. Keunggulan dan Kelemahan Portofolio
Keunggulan:
- dapat menilai kemampuan siswa secara menyeluruh
- dapat menjamin akuntabilitas
- penilaian yan bersifat individual
- penilaian yang terbuka
- bersifat self evaluation
Kelemahannya, yaitu:
- memerlukan waktu dan kerja keras
- memerlukan perubahan cara pandang
- memerlukan perubahan gaya belajar
- memerlukan sistem pembelajaran
E. Tahapan Pelaksaan Portofolio
- menentukan tujuan portofolio
- penentuan isi portofolio
- menentukan kriteria dan format penilaian
- pengamatan dan penentuan bahan portofolio
- menyusun dokumen portofolio
Makalah Kurikulum Pendidikan
Sebelumnya, Coretan sedikit ini mungkin sedikit mengusik apa sekarang yg ada tentang dunia kurikulum pendidikan, yang kebanyakan ada tapi masih menyisakan banyak tanda tanya akan ketuntasan dan keberhasilan terlaksananya kurikulum di daerah kita.
BAB I
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kurikulum merupakan salah satu bagian
penting terjadinya suatu proses pendidikan. Karena suatu pendidikan
tanpa adanya kurikulum akan kelihatan amburadul dan tidak teratur. Hal
ini akan menimbulkan perubahan dalam perkembangan kurikulum, khususnya
di Indonesia.
Kurikulum merupakan salah satu alat untuk
mencapai tujuan pendidikan, dan sekaligus digunakan sebagai pedoman
dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada berbagai jenis dan
tingkat sekolah. Kurikulum menjadi dasar dan cermin falsafah pandangan
hidup suatu bangsa, akan diarahkan kemana dan bagaimana bentuk kehidupan
bangsa ini di masa depan, semua itu ditentukan dan digambarkan dalam
suatu kurikulum pendidikan. Kurikulum haruslah dinamis dan terus
berkembang untuk menyesuaikan berbagai perkembangan yang terjadi pada
masyarakat dunia dan haruslah menetapkan hasilnya sesuai dengan yang
diharapkan.
Sejak isu reformasi pendidikan
digulirkan, maka banyak bermunculan gagasan-gagasan pembaharuan
pendidikan. Reformasi sebagai sebuah gerakan yang memiliki perspektif
sejarah politik monumental, karena era reformasi menjadi era
pemerintahan substitusi pemerintahan orde baru. Tentunya gagasan
reformasi pendidikan ini memiliki momentum yang amat mendasar dan
berbeda dengan gagasan yang sama pada era sebelumnya. Arah reformasi
dalam mewujudkan pengembangan pendidikan terkait dengan kebijakan
kurikulum adalah ikut diperbaharuinya kurikulum yang ada sebelumnya dari
kurikulum 1994 diperbaharui menjadi kurikulum 2004 atau KBK (Kurikulum
Berbasis Kompetensi). Selang dua tahun kemudian KBK pun telah mengalami
pembaharuan kembali menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan)
atau kurikulum 2006.
- B. Rumusan Masalah
- Apakah pengertian kurikulum ?
- Sebutkan prinsip-prinsip kurikulum ?
- Apa fungsi kurikulum ?
- Sebutkan komponen-komponen dalam kurikulum ?
- Sebutkan macam-macam kurikulum ?
BAB II
PEMBAHASAN
- Pengertian Kurikulum
Secara etimologi, kurikulum (curriculum)
berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan
curere yang berarti “tempat berpacu”. Itu berarti istilah kurikulum
berasal dari dunia olah raga pada zaman Yunani Kuno di Yunani, yang
mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari
garis start sampai finish, kemudian di gunakan oleh dunia pendidikan.
Secara terminologi, istilah kurikulum
digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu sejumlah pengetahuan atau
kemampuan yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai
tingkatan tertentu secara formal dan dapat dipertanggung jawabkan. Para
ahli mengartikan kurikulum itu yaitu:
- Menurut Nasution, “Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.”
- Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.
- Menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
- John Dewey 1902;5 kurikulum dapat diartikan sebagai pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan dari masa lampau hingga masa kini. Pembentukan kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan masyarakat.
- Frank Bobbit 1918, Kurikulum dapat diartikan keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu atau satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.
- Menurut Hasan Kurikulum bersifat fleksibilitas mengandung dua posisi. Pada posisi pertama berhubungan dengan fleksibilitas sebagai suatu pemikiran kependidikan bagi diklat. Dengan demikian, pada posisi teoritik yang harus dikembangkan dalam kurikulum sebagai rencana. Pengertian kedua yaitu sebagai kaidah pengembang kurikulum. Terdapatnya posisi pengembang ini karena adanya perubahan pada pemikiran kependidikan atau pelatihan.
- Hilda Taba ;1962 Kurikulum sebagai a plan for learning, yakni sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa. Sementara itu, pandangan lain mengatakan bahwa kurikulum sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk peserta didik selama di sekolah
- Menurut Saylor J. Gallen & William N. Alexander dalam bukunya “Curriculum Planning” menyatakan Kurikulum adalah “Keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung dikelas, dihalaman maupun diluar sekolah”.
- Menurut B. Ragan, beliau mengemukakan bahwa “Kurikulum adalah semua pengalaman anak dibawah tanggung jawab sekolah”.
- Menurut Soedijarto, “Kurikulum adalah segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh siswa atau mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bagi suatu lembaga pendidikan”.
Jadi, kurikulum itu merupakan suatu usaha
terencana dan terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman belajar
pada siswa dibawah tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan untuk
mencapai suatu tujuan. Pengertian kurikulum secara luas tidak hanya
berupa mata pelajaran atau kegiatan-kegiatan belajar siswa saja tetapi
segala hal yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak sesuai
dengan tujuan pendidikan yang diharapkan.
- Prinsip-prinsip Kurikulum
Oemar Hamalik (2001) membagi prinsip pengembangan kurikulum menjadi delapan macam, antara lain:
- Prinsip Berorientasi Pada Tujuan
Pengembngan kurikulum diarahkan untuk
mencapai tujuan tertentu, yang bertitik tolak dari tujuan pendidikan
Nasional. Tujuan kurikulum merupakan penjabaran dan upaya untuk mencapai
tujuan satuan dan jenjang pendidikan tertentu. Tujuan kurikulum
mengadung aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai. Yang
selanjutnya menumbuhkan perubahan tingkah laku peserta didik yang
mencakup tiga aspek tersebut dan bertalian dengan aspek-aspek yang
terkandung dalam tujuan pendidikan nasional.
- Prinsip Relevansi (Kesesuaian)
pengembanga kurikulum yang meliputi
tujuan, isi dan system penyampaian harus relevan (sesuai) dengan
kebutuhan dan keadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan
siswa, serta serasi dengan perkembnagan ilmu pengetahuan dan tegnologi.
- Prinsip Efisiensi dan Efektifitas.
Pengembangan kurikulum harus
mempertimbangkan segi efisien dan pendayagunaan dana, waktu, tenaga, dan
sumber-sumber yang tersedia agar dapat mencapai hasil yang optimal.
Dana yang terbat harus digunakan sedemikina rupa dalam rangka mendukung
pelaksanaan pembelajaran. Waktu yang tersedia bagi siswa belajar
disekolah juga terbatas sehingga harus dimanfaatkan secara tepat sesuai
dengan tata ajaran dan bahan pembelajaran yang diperlukan. Tenaga
disekolah juga sangat terbatas, baik dalam jumlah maupun dalam mutunya,
hendaknya didaya gunakan secara efisien untuk melaksanakan proses
pembelajaran. Demikian juga keterbatasan fasilitas ruangan, peralatan,
dan sumber kerterbacaan, harus digunakan secara tepat oleh sswa dalam
rangka pembelajaran, yang semuanya demi meningkatkan efektifitas atau
keberhasilan siswa.
- Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum yang luwes mudah disesuaikan,
diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan
ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis atau kaku. Misalnya
dalam suatu kurikulum disediakan program pendidikan ketrampilan industri
dan pertanian. Pelaksanaaan di kota, karena tidak tersedianya lahan
pertanian., maka yang dialaksanakan program ketrampilan pendidikn
industri. Sebaliknya, pelaksanaan di desa ditekankan pada program
ketrampilan pertanian. Dalam hal ini lingkungan sekitar, keadaaan
masyarakat, dan ketersediaan tenaga dan peralatan menjadi faktor
pertimbangan dalam rangka pelaksanaan kurikulum.
- Prinsip Kontiunitas
Kurikulum disusun secara
berkesinambungan, artinya bagian-bagian, aspek-spek, materi, dan bahan
kajian disusun secara berurutan, tidak terlepas-lepas, melainkan satu
sama lain memilik hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan
jenjang pendidikan, struktur dalam satuan pendidikn, tingkat
perkembangan siswa. Dengan prinsip ini, tampak jelas alur dan
keterkaitan didalam kurikulum tersebut sehingga mempermudah guru dan
siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.
- Prinsip Keseimbangan
Penyusunan kurikulum memerhatikan
keseimbangan secara proposional dan fungsional antara berbagai program
dan sub-program, antara semau mata ajaran, dan antara aspek-aspek
perilaku yang ingin dikembangkan. Keseimbangan juga perlu diadakan
antara teori dan praktik, antara unsur-unsur keilmuan sains, sosial,
humaniora, dan keilmuan perilaku. Dengan keseimbangan tersebut
diaharapkan terjalin perpaduan yang lengkap dan menyeluruh, yang satu
sama lainnya saling memberikan sumbangan terhadap pengembangan pribadi.
- Prinsip Keterpaduan
Kurikulum dirancang dan dilaksanakan
berdasarkan prinsip keterpaduan, perencanaan terpadu bertitik tolak dari
masalah atau topik dan konsistensi antara unsur-unsusrnya. Pelaksanaan
terpadu dengan melibatkan semua pihak, baik di lingkungan sekolah maupun
pada tingkat inter sektoral. Dengan keterpaduan ini diharapkan
terbentuk pribadi yang bulat dan utuh. Diamping itu juga dilaksanakan
keterpaduan dalam proses pembalajaran, baik dalam interaksi antar siswa
dan guru maupun antara teori dan praktek.
- Prinsip Mutu
Pengembangan kurikulum berorientasi pada
pendidikan mutu, yang berarti bahwa pelaksanaan pembelajaran yang
bermutu ditentukan oleh derajat mutu guru, kegiatan belajar mengajar,
peralatan,/media yang bermutu. Hasil pendidikan yang bermutu diukur
berdasarkan kriteria tujuan pendidikan nasional yang diaharapkan.
- Fungsi Kurikulum
Fungsi kurikulum menurut Hendyat Soetopo Wasty Soemanto
- kurikulum berfungsi sebagai media untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
- kurikulum juga berpungsi bagi perkembangan siswa karena kurikulum berperan organisasi belajar ( learning oprganisatior) yang tersusun dengan cermat.
- sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir pengalaman belajar siswa.
- sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap tingkat perkembangan siswa dalam rangka menyerap sejumlah ilmu pengetahuan sebagai pengalaman bagi mereka.
Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu :
1) Fungsi Penyesuaian
Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted
yang mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan
fisik maupun lingkungan social. Lingkungan itu sendiri senantiasa
mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, siswa pun
harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang
terjadi di lingkungannya.
2) Fungsi Integrasi
Fungsi integrasi mengandung makna bahwa
kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan
pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan
bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki
kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan
masyarakatnya.
3) Fungsi Diferensiasi
Fungsi diferensiasi mengandung makna
bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan
terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki perbedaan,
baik dari aspek fisik maupun psikis yang harus dihargai dan dilayani
dengan baik.
4) Fungsi Persiapan
Fungsi persiapan mengandung makna bahwa
kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk
melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu,
kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat hidup
dalam masyarakat seandainya sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan
pendidikannya.
5) Fungsi Pemilihan
Fungsi pemilihan mengandung makna bahwa
kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membarikan kesempatan
kepada siswa untuk memilih program-program belajar yang sesuai dengan
kemapuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat hubungannya
dengan fungsi diferensiasi, karena pengakuan atas adanya perbedaan
individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi siswa tersebut
untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk
mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih
luas dan bersifat fleksibel.
6) Fungsi Diagnostik
Fungsi diagnostic mengandung makna bahwa
kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan
siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan
yang dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memahami kekuatan-kekuatan
dan kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan siswa
dapat mengambangkan sendiri kekuatan yang dimilikinya aau memperbaiki
kelemahan-kelemahannya.
- Komponen-komponen Dalam Kurikulum
Nana Syaodih. Sukmadinata mengemukakan
empat komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan,
isi atau materi, proses atau sistem penyampaian serta evaluasi.
- 1. Tujuan
Tujuan sebagai sebuah komponen kurikulum
adalah kekuatan-kekuatan fundamental yang peka sekali, karena hasil
kurikuler yang diinginkan tidak hanya mempengaruhi bentuk kurikulum,
tetapi memberi arahan dan fokus untuk seluruh program pendidikan.
- 2. Materi atau Pengalaman Belajar
Fungsi khusus dari kurikulum pendidikan
formal adalah memilih dan menyusun isi (materi/pengalaman belajar) agar
keinginan tujuan kurikulum dapat dicapai dengan cara paling efektif dan
supaya pengetahuan paling penting yang diinginkan pada jalurnya dapat
disajikan secara efektif
- 3. Organisasi
Menurut (Taba, 1962 : 290), jika
kurikulum merupakan suatu rencana untuk belajar maka isi dan pengalaman
belajar membutuhkan pengorganisasian sedemikian rupa sehingga berguna
bagi tujuan-tujuan pendidikan. Menurut pendapar Taba ini, materi dan
pengalaman belajar dalam kurkulum diorganisasikan untuk mengefektifkan
pencapaian tujuan.
- 4. Evaluasi
Evaluasi adalah komponen keempat dari
kurikulum. Evaluasi ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap belajar
siswa (hasil dan proses) maupun keefektifan kurikulum dan pembelajaran.
Menurut (Zais, 1976 : 378) mengemukakan evaluasi secara luas merupakan
suatu usaha sangat besar yang kompleks yang mecoba menantang
mengkodifikasi proses salah satu dari istilah sekuensi atau
komponen-komponen. Kegiatan evaluasi akan memberikan informasi dan data
tentang perkembangan belajar siswa maupun keefektifan kurikulum dan
pembelajaran, sehingga dapat dibuat keputusan-keputusan pembelajaran dan
pendidikan secara tepat.
- Macam-macam Kurikulum
- Rencana Pelajaran 1947
Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan
namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu penyebutannya lebih populer
menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang istilah curriculum
dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis, yang
tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum
Belanda, yang orientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk
kepentingan kolonialis Belanda. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila.
Situasi perpolitikan dengan gejolak perang revolusi, maka Rencana
Pelajaran 1947, baru diterapkan pada tahun 1950. Oleh karena itu Rencana
Pelajaran 1947 sering juga disebut kurikulum 1950. Susunan Rencana
Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok, yaitu
daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar
pengajarannya. Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan pendidikan
watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada pendidikan
pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari,
perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. Mata pelajaran
untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura
diberikan bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia,
Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Sejarah,
Menggambar, Menulis, Seni Suara, Pekerjaan Tangan, Pekerjaan Keputrian,
Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan, Didikan Budi Pekerti, dan
Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran agama diberikan mulai kelas IV,
namun sejak 1951 agama juga diajarkan sejak kelas 1. Garis-garis besar
pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan cara
murid mempelajari. Misalnya, pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana cara
bercakap-cakap, membaca, dan menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana
proses kejadian sehari-hari, bagaimana mempergunakan berbagai perkakas
sederhana (pompa, timbangan, manfaat bes berani), dan menyelidiki
berbagai peristiwa sehari-hari, misalnya mengapa lokomotif diisi air dan
kayu, mengapa nelayan melaut pada malam hari, dan bagaimana menyambung
kabel listrik. Pada perkembangannya, rencana pelajaran lebih dirinci
lagi setiap pelajarannya, yang dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran
Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Seorang guru
mengajar satu mata pelajaran”. Pada masa itu juga dibentuk Kelas
Masyarakat. yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak
melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti
pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak tak mampu
sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.
- Rencana Pelajaran Terurai 1952
Kurikulum ini lebih merinci setiap mata
pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata
pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,”
kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode
1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan
dan Tanjung Pinang, Riau. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul
Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan
daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata
pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral,
kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan
jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan
kegiatan fungsional praktis.
- Kurikulum 1968
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat
politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai
produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati.
Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran:
kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus.
Jumlah pelajarannya 9. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum
bulat. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja,” katanya. Muatan
materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan
faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat
diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
- Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan,
agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah
pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by
objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur
Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Metode, materi, dan tujuan pengajaran
dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman
ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap
satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum,
tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran,
kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik.
Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap
kegiatan pembelajaran.
- Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung process skill
approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap
penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang
disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari
mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan.
Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active
Leaming (SAL). Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah
Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode
1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta sekarang Universitas Negeri
Jakarta periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan
bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak
deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak
sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana
gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada
tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model
berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.
- Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya
memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin
mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara
pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan. Sayang, perpaduan tujuan
dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar
siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi
muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya
bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai
kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu
tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma
menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998,
diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada
menambal sejumlah materi.
- Kurikulum 2004
Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis
Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah
yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan
dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah
maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi
yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau
soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi
siswa. Meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di
Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK.
Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya
kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.
- KTSP 2006
Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan.
Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pelajaran KTSP masih
tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target
kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak
perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah
guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai
dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal
ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL),
standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran
untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen
Pendidikan Nasional.
BAB III
PENUTUP
- Kesimpulan
Kurikulum adalah sejumlah rencana isi
yang merupakan sejumlah tahapan belajar yang di desain untuk siswa
dengan petunjuk institusi pendidikan yang berupa proses yang statis
ataupun dinamis dan kompetensi yang harus dimiliki. Kurikulum adalah
seluruh pengalaman di bawah bimbingan dan arahan dari institusi
pendidikan yang membawa ke dalam kondisi belajar.
Kurikulum mempunyai komponen-komponen
yang mempunyai tujuan utama atau tujuan dari kurikulum tersebut. Karena
komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan menunjang untuk mencapai
tujuan dari kurikulum maka di sebutlah kurikulum sebagai suatu sistem.
Pengembangan kurikulum haruslah
memperhatikan prinsip-prinsip kurikulumnya yang terdiri dari tujuh
prinsip pengembangan kurikulum antara lain : relevansi, efektivitas,
efisiensi, fleksibilitas, kontinuitas, objektifitas dan demokrasi.
- Saran
Kebutuhan pendidikan kini semakin
kompleks, begitu pula dengan kebutuhan kurikulum yang ada juga semakin
berkembang, maka disarankan agar tiap sekolah atau lembaga pendidikan
menerapkan suatu sistem kurikulum yang sesuai dengan keadaan lingkungan
sekolahnya, karena sesuai dengan ketetapan pemerintah kurikulum yang
digunakan saat ini adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP),
maka sudah selayaknya pihakpengembang kurikulum mengembagkan kurikulum
sesuai dengan potensi daerahnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun
proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi,
karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Semua itu pasti ada tujuan yang tersirat layaknya tujuan pribadi, pemerintah juga mempunyai tujuan mulia dan agung yang bisa di realisasikan dengan cara ikut membantu dari berbagai sudut pandang yang realistis.
Subscribe to:
Comments (Atom)