Sunday, June 29, 2014

Makalah materi masa keemasan islam

“Peradaban Islam’ bukanlah terjadi pada masa kejayaan kekaisan Ottoman Turki, sebab itu adalah peradaban Turki. Justru “Peradaban Islam” sebenarnya adalah masa keemasan Islam jauh sebelum kekaisaran Ottoman muncul di panggung dunia. Mari kita lihat masa-masa keemasan Islam itu.
Peradaban-peradaban besar di masa lampau mewariskan bukti atas prestasi-prestasi mereka. Peradaban Roma, Yunani, Maya dan China. Peradaban Mesir melahirkan Pyramid yang sekarang dikagumi dunia, China dengan tembok chinanya, dan lainnya. Lantas bagaimana dengan “Peradaban Islam”. Contoh sisa2 peradaban Islam adalah Mesjid Ummayah di Damascus? Ini adalah bekas Gereja Kristen yang berhasil diambil alih umat Islam dan berhasil diubah menjadi mesjid. Tanpa peradaban yang tinggi, tentu pengambil alihan ini tidak akan terjadi.
Peradaban-peradaban  Islam memiliki prestasi-prestasi besar yang jelas asal-usulnya. Peradaban Islam dimulai dengan wilayah Mekkah dan Medinah. Di sana kita bisa lihat sisa-sisa peradaban Islam yang berupa Kabah yang berwujud kotak kubus berwarna hitam, dan batu hitam yang sampai saat ini masih dapat kita saksikan dan cium ketika kita melakukan kewajiban berhaji. Dan peradaban Islam ini kini semakin besar dengan dilakukannya renovasi besar2an di sekitar lingkungan Kabah yang menjadi kiblat kaum muslim untuk beribadah. Peradaban Islam memungkinkan dibangunnya hotel2 besar di sekitar Kabah lengkap dengan segala fasilitas modernnya. Sekali lagi, peradaban Islam terbukti memberi banyak manfaat bagi dunia.
Contoh peradaban masa keemasan Islam adalah juga dapat kita saksikan di masa penjajahan di Spanyol misalnya. Umat Islam berhasil mengambil alih bangunan-bangunan milik orang Spanyol yang kafir. Coba saja kalau peradaban Islam tidak berhasil masuk Spanyol pada masa itu, tentu Spanyol tidak akan semaju seperti sekarang ini.
Peradaban Islam terus berkembang dengan begitu sehat dan umatnya semakin memiliki kemampuan berpikir secara kritis. Akhirnya peradaban Islam berhasil menemukan konsep “Nol” yang tanpanya tidak mungkin ada komputer. Konsep ‘nol’ bukanlah berasal dari India seperti yang didengung2kan selama ini, melainkan oleh Islam semasa pendudukan Islam di daratan India. Kalau saja umat Islam membunuh para orang India yang menemukan angka “Nol” ini, tentu angka “Nol” tidak akan pernah ada, jadi wajarlah kalau Islam dapat disebut sebagai punya andil besar dalam penemuan angka “Nol”. Demikian juga angka2 ‘Arab’ lainnya yang diperoleh ketika Islam menguasai daerah2 kafir di Babylonia.
Islam menerjemahkan karya-karya filsuf Yunani: Socrates, Aristotle, dll., dan tanpa terjemahan yang dilakukan oleh umat Islam maka peradaban Eropa akan lenyap dan Eropah tidak akan semaju seperti sekarang ini. Jadi wajar orang Eropah harus berterima kasih kepada peradaban Islam. Terjemahan-terjemahan tersebut dibuat di negara-negara pendudukan Islam seperti Iraq dan Levant. Walau terjemahan2 tersebut tidak dilakukan langsung oleh umat Islam, tetapi karena dilakukannya di negara2 yang mayoritas Islam maka umat Islam juga harus disebut sebagai punya andil besar bagi dibuatnya terjemahan2 tersebut. Seperti kita tahu bahwa terjemahan2 tersebut dilakukan melalui tangan2 orang Kristen Assyria yang hidup dibawah perlindungan Islam. Coba kalau umat Islam tidak melindungi orang2 Kristen Assyria ini, tentu terjemahan2 tersebut tidak akan pernah ada dan Eropah tidak akan semaju seperti sekarang ini.
Peradaban Islam adalah peradaban di mana kita memasukkan budaya Arab di dalam kehidupan sehari2 kita. Kebudayaa2 penduduk Asli bukanlah budaya Islam jadi harus dibuang. Untung saja dulu peradaban islam belum mengenal yang namanya bom, kalau sudah mengenal pasti Piramid Giza di Mesir tidak ada lagi karena pyramid bukanlah budaya Islam melainkan kafir laknatullah.  Tentu hal ini tidak berlaku pada patung Bamiyan Buddha raksasa di Afghanistan yang berusia 2500 tahun. Sewaktu peradaban Islam telah belajar menggunakan bahan peledak, kita bisa dengan gampang menghancurkannya sambil memuji kebesaran Allah SWT. Peradaban lain hanya bisa menyaksikan penghancuran itu dengan mulut ternganga, karena peradaban2 lain ini begitu tololnya, karena mengagumi benda mati seperti patung Buddha. Ribuan kuil-kuil Hindu kita berhasil rubah menjadi mesjid-mesjid, dan masih bisa kita saksikan sampai saat ini. Inilah bukti2 masa peradaban Islam

Saturday, June 21, 2014

makalah kurikulum

BAB I
HAKIKAT KURIKULUM

  1. Pengertian kurikulum
Kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk myata. Dengan demikian, pengembangan kurikulum meliputi penyusunan dokumen, implementasi dokumen serta evaluai dokumen yang telah disusun.

  1. Peran dan Fungsi Kurikulum
Sebagai salah satu komponen suatu sistem pendidikan, paling tidak kurikulum mempunyai peran, yaitu :
-                      peran konservatif yaitu melestrikan berbagai nilai budaya senagai warisan masa lalu
-                      peran kreatif yaitu mengembangkan setiap potensi yang dimiliki siswa
-                      peran kritis dan evaluatif yaitu menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yang di anggap bermanfaat untuk kehidupan anak didik
Di lihat dari cakupan tujuannya menurut McNeil (1990), yaitu :
-                      fungsi pendidikan umum
-                      suplementasi
-                      eksplorasi
-                      keahlian
maka jelaslah kurikulum berfungsi untuk setiaporang atau lembaga yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung.
Berkaitan dengan kurikulum, Alexander Inglis (1990)  mengemukakan enam fungsi kurikulum untuk siswa:
-                      fungsi penyesuaian
-                      fungsi integrasi
-                      fungsi difersiasi
-                      fungsi persiapan
-                      fungsi pemilihan
-                      fungsi diasnogtik

  1. Kurikulum dan Pengajaran
Saylor, oliva mengatakan bahwa kurikulun dan pengajaran memiliki keterkaitan yang sangat erat. Dan digambarkan denagn model sebagai berikut:
-                      model dualistik
-                      model berkaitan
-                      model konsentris
-                      model siklus

  1. Kurikulum ideal dan kurikulum aktual
Kurikulum ideal adalah kurikulum yang diharapkan dapat dilaksanakan dan berfungsi sebagai acuan atau pedoman guru dalam proses belajar dan mengajar. Kuurikulum aktual adalah kurikulum yang secara riil dapat dilaksnakan oleh guru sesuai dengan keadaan dan kondisi yang ada.

  1. Kurikulum tersembunyi
Ialah hasil dari suatu proses pendidikan yang tidak direncanakan.


  1. peran guru dan pengembangan kurikulum
Muray Printr (1993) mencatat peran guru dala levvel ini adalah implementers, adapters, develover, dan researchers.
BAB II
LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
  1. Hakikat pengembangan kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah proses atau kegiatan yang sengaja dan dipikirkan untuk menghasilkan sebuah kurikulum sebagai pedoman dalam proses dan penyelenggaraan pembelajaran oleh guru di Sekolah. Seller dan Miller (1985) mengatakan dahwa proses pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukuan secara terus-menerus. Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam penentuan isi pengembangan kuriulum, yaitu rentangan kegiatan dan tujuan kelembagaan yang berhubungan dngan visi dan misi sekolah.

  1. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
Prinsip-prinsipnya yaitu :
-                      prinsip relevansi
-                      prinsip fleksibilitas
-                      prinsip kontinuitas
-                      efektifitas
-                      efisiensi

  1. Landasan pengembangan kurikulum
-                      landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum
ada empat fungsi filsasat dalam proses pengembangan kurikulum, yaitu:
  1. dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan
  2. dapat menentukan isi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
  3. dapat nementukan cara pencapaian tujuan
  4. dapat menentukan tolak ukur keberhasilah proses pendidikan
-                      landasan psikologis dalam pengembangan kurikulum
  1. psikologi perkembangan anak
tahapan-tahapan perkembangan kognitif anak ada 4 fase, yaitu :
a. sensorimotor
b. praopersional
c. operasional konkret
d. operasional formal
-                      landasan sosiologis-teknologis dalam pengembangan
  1. kekuatan sosial yang dapat mempengaruhi kurikulum
  2. kemajuan IPTEK sebagai bahan pertimbangan penyusunan kurikulum
BAB III
DESAIN KURIKULUM

Mendesain kurikulum berarti menyusun rancangan atau menyusun model kurikulum sesuai visi dan misi sekolah
A. Desain kurikulum disiplin ilmu
Terdapat tiga bentuk organisasi kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu, yaitu:
-                      subjec centered curriculum
-                      correlated curriculum
-                      integrated curriculum

B. Desain kurikulum berorientasi pada masyarakat
Ada tiga perspektif desain kurikullum yang berorientasu pada kehidupan masyarakat, yaitu:
-                      perspektif status quo
-                      perspektif pembaharuan
-                      perspektif masa depan

C. Desain kurikulum berorientasi pada siswa
Desain kurikulum yang berorientasi pada anak didik, dapat dilihat minimal dari dua perspektif, yaitu:
-                      perspektif kehidupan anak di masyarakat
-                       perspektif psikologi.

  1. Desain kurikulum teknologis
Model desain teknologi dikhususkan kepada efektivitas program,metode, dan bahan-bahan yang diaggap dapat mencapai tujuan. Teknologi mempengaruhi kurikulum dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:
-                      sisi penerapan hasil-hasil teknologi
-                      penerapan teknologi sebagai suatu sistem
Organisasi bahan pelajaran dalam kurikulum teknologis memiliki ciri-ciri:
-                      pengorganisasian materi kurikulum berpatokan pada rumusan tujuan
-                      materi kurikulum disusun secara berjenjang
-                      materi kurikulum disusun dari mulai yang sederhana menuju yang kompleks
Efektifitas dan keberhasilan implementasi kurikulum teknologi hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
-                      kesadaran akan tujuan
-                      mempraktikan kecakapan sesuai dengan tujuan
-                      siswa perlu diberi tahu hasil yang dicapai
BAB IV
PENDEKATAN DAN MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM 
  1. Pendekatan pengembangan kurikulum
Ada dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum. Yaitu:
-                      pendekatan topdown ialah pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para administrator pendidikan
-                      pendekatan grass roots ialahpengembangan kurikulum dimulai dari lapangan atau implementator, kemudian menyebar pada lingungan yang lebih luas

  1. Model-model pengembangan kurikulum
Menurut Good(1972) dan Traves(1973) model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa komplek atau sistem dalam bentuk naratif, matematis, grafis,dan lainnya.
Manfaat-manfaat model,yaitu:
-                      menjelaskan aspek perilaku dan interaksi manusia
-                      mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil penelitian
-                      menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks
-                      pedoman untuk melakukan kegiatan
1. Model tyler
Model pengembangan tyler bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu instuisi pendidikan. Menurut Tyler ada 4 halyang fundamental untuk mengembangkan kurikulum, yaitu:
-                      menentukan tujuan
-                      menentukan pengalaman belajar
-                      mengorganisasi pengakaman belajar
-                      evaluasi
2. Model Taba
Menurut Hilda Taba sebaiknya kurikulum dikembangkan secara terbalik, yaitu dengan pendekatan induktif. Ada 5 langkah pengembangan model Taba, yaitu:
-                      menghasilkan unit-unit percobaan
-                      menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data yang valid
-                      merivisi unit eksperimenberdasarka data yang didapat
-                      mengembangka keseluruhan kerangka kurikulum
-                      implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji
3. Model Oliva
Menurut Oliva suatu model kurikulum harus bersifat simpel, komprehensif dan sistematik. Menurutnya model ini dapat dikembangkan kedalam 3 dimensi, yaitu:
-                      penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus
-                      membuat keputusan dalam merancang program kuriklum
-                      mengembangka program pembelajaran
  1. Model Beauchamp
Beauchamp mengatakan ada 5 langkah dalam proses pengembangan kurikulum, yaitu:
-                      menetapkan wilayah yang akan melakukan suatu perubahan kurikulum
-                      menetapkan orng-orang yang terlibat dalam proses pengembangan kurikulun
-                      menetapkan prosedur yang aka ditempuh
-                      implementasi kurikulum
-                      melaksanakan evaluasi kurikulim
  1. Model Wheeler
Menurut Wheeler pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yan membentuk lingkaran yang terjadi terus-menerus. Menurutnya ada 5 tahap pengembanga kurikulum, yaitu:
-                      menentukan tujuan umum dan tujuan khusus
-                      menentuka pengalaman belajar siswa
-                      menentukan isi atau materi sesuai dengan pengalaman
-                      mengorganisasi pengalaman belajardengan isi atau materi belajar
-                      melakukan evaluasi
6. Model Nichools
Howard Nichools mengatakan bahwa oendekatan pengembangan kurikulum terdiri atas elemen-elemen kurikulum yang membentuk siklus. Ada 5 langkah pengembangannya, yaitu:
-                      analisis situasi
-                      menentukan tujuan khusus
-                      menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran
-                      menentukan dan mengorganisasi metode
-                      evaluasi
7. Model Dynamic Skilbeck
Menurut Skilbeck model dynamic adlah mode pengembangan kurikulum pada level sekolah. Dan langkah-langkahnya yaitu:
-                      menganalisis situasi
-                      memformulasikan tujuan
-                      menyusun program
-                      interpretesi dan implementasi
-                      monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi

BAB V
PENGEMBANGAN TUJUAN DAN ISI KURIKULUM
  
A. Pendahuluan
Sistem kurikulum terbentuk oleh 4 komponen, yaitu:
-                      tujuan
-                      isi kurikulum
-                      metode
-                      evaluasi

B. Pengembangan tujuan kurikulum
Perumusan tujuan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dala sebuah kurikulm
1. Klasifikasi tujuan
Menurut Bloom bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat digolongkan kedalam 3 domain, yaitu:
-                      Domain kognitif
a. pengetahuan                                    d. analisis
b. pemahaman                         e. sintesis
c. penerapan                            f. evaluasi
-                      Domain afektif
a. penerimaan                          d. mengorganisasi
b. merespons                           e. Karakterisasi nilai
c. menghargai
-                      Domain psikomotor
a. gerak refleks                        d. Ketermpilan fisik
b. keterampilan dasar              e. Gerakan keterampilan
c. ketermpilan perseptual        f. Komunikasi nondiskurtif
2. Haerarkis tujuan
Dilihat dari haerarkis tujuan pendidikan terdiri atas tujuan umum dan husus yang bersifat spesifik dan dapat diukur dan diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
-                      tujuan pendidikan nasional (TPT)
-                      tujuan institusional (TI)
-                      tujuan kurikuler (TK)
-                      tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran (TP)

C. Pengembangan materi kurikulum
Bahan atau materi kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami siswa dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
1. Sunber-sumber kurikulum adalah:
-                      masyarakat beserta budayanya
-                      siswa
-                      ilmu pengetahuan
2. Tahap penyeleksian materi kurikulum adalah:
-                      identifikasi kebutuhan
-                      mendapatkan bahan kurikulum
-                      analisis bahan
-                      penilaian bahan kurikulum
-                      membuat keputusan mengadopsi bahan
3. Jenis-jenis materi kurikulum yaitu:
-                      fakta
-                      konsep
-                      prinsip
-                      hukum
-                      keterampilan
4. Kriteria penerapan ateri kurikulum yaitu:
-                      tingkat kematangan siswa
-                      tingkat pengalaman anak
-                      tingkat kesulitan materi
BAB VI
HAKIKAT KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

A. Pengertian dan karakteristik KTSP
Dalam standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, Ayat 15) bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan yang disusun oleh satuan pendidikan dan dikembangkan oleh Badan  Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
KTSP memiliki karakteristik, yaitu:
-                      kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu
-                      kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu
-                      kurikulum yang mengakses kepentingan daerah
-                      kurikulum teknologis

B. Tujuan KTSP
Dan tujuannya secara khusus yaitu:
-                      meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola, memberdayakan sumber daya yang tersedia
-                      menungkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan  kurikulum melalui pengambilan keputsan bersama
-                      meningkatkan kompetensi yan sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai

C. Dasar penyusunan KTSP
Pengembangan KTSP didasarkan pada 2 landasan pokok, yakni landasan empiris dan landasan formal. Yang menjadi landasan empirik antaranya adalah
-                      adanya kenyataan rendahnya kualitas pendidikan kitabaik dari proses ataupun hasil
-                      indonesia adalah negara yang sangat luas yang memiliki keragaman sosial budaya dengan potensi dan kebutuhan yang berbeda
-                      peran sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum bersifat pasif.
-                      Yang menjadi landasan formal, KTSP disusun dalam rangka memenuhi amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendididkan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

D. Prinsip-prinsip pengembangan KTSP
-                      berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik, dan lingkungannya
-                      beragam da terpadu
-                      tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
-                      relevan dengan kebutuhan kehidupan
-                      menyeluruh dan berkesinambungan
-                      belajar sepanjang hayat
-                      seimbang antara kepentinga Nasional dan kepentingan daerah

E. Komponen KTSP
Sebagai sebuah pedoman KTSP terdiri atas 4 komponen, yakni:
-                      Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu pada tujuan umum pendidikan.
-                      Struktur program dan muatan kurikulum pendidikan dasar dan menengah tertuang dalam SI meliputi 5 kelompok mata pelajaran ( agama dan akhlak mulia, PKn dan kepribadian, IPTEK, estetika, dan jasmani kesehatan )
-                      kalender pendidikan
-                      silabus dan RPP

F. Proses penyusunan KTSP
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun KTSP, yaitu:
-                      analisis konteks
-                      mekanisme penyusunan
-                      kegiatan
-                      pemberlakuan


BABVII
PENGEMBANGAN DOKUMEN KTSP


            Struktur KTSP terdiri atas 2 dokumen, yaitu:
  1. Dokumen satu tentang acuan pengembangan KTSP, secara lengkap dokumen tersebut adalah sebagai berikut:
BAB I. Pendahuluan
A.  Latar Belakang dan Dasar Pengembangan
B.  Tujuan Pengembangan dan Fungsi KTSP
C.  Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP
BAB 2. Tujuan pendidikan
A.  Tujuan Pendidikan
B.  Visi dan Misi Sekolah
C.  Misi Sekolah
BAB 3. Stuktur dan Muatan Kurikulum
A.  Mata pelajaran
B.  Muatan Lokal
  1. Kegiatan Pengembangan Diri
D.  Pengaturan Beban Belajar
E.  Ketuntasan Belajar
F.  Kenaiakan Kelas dan Kelulusan
G.  Penjurusan
H.  Pendidikan Kecakapan Hidup
I.   Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global
BAB 4.  Kalender Pendidikan
A.  Minggu, hari dan jam efektif
B.  Program Tahunan
C.  Program semester
2. Dokumen dua berisi tentang silabus mata pelajaran berisi tentang silabus dan RPP.
Silabus adalah rancangan program pembelajaran satu atau kelompok mata pelajaran yang berisi tentan standar kompetensi. Manfaatnya sebagai pedoman dalam menyusun pelaksaan pembelajaran. Prinsip- prinsipnya yaitu:
-                      ilmiah                                      -  memadai
-                      relevan                                     -  aktual dan konstektual
-                      sistematis                                 -  fleksibel
-                      konsisten                                 -   menyeluruh
RPP adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses pembelajaran. Komponen-komponen RPP yaitu:
-                      tujuan pembelajaran
-                      materi atau isi
-                      strategi dan metode pembelajaran
-                      media dan sumber belajar
-                      evaluasi

BAB VIII
SISTEM PEMBELAJARAN

A. Pengertian dan kegunaan sistem pembelajaran
Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang tela ditetapkan. 3 karakteristik sistem, yaitu:
-                      setiap sistem mempunyai tujuan
-                      sistem mengandung suatu proses
-                      melibatkan unsur-unsur tertentu
Manfaat sistem adalah untuk merancang atau merencanakan suatu proses pembelajaran.

B. faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran
-                      faktor guru
-                      faktor siswa
-                      faktor sarana dan prasarana
-                      faktor lingkungan

C. Komponen-komponen sistem pembelajaran
Komponen-komponen tersebut yaitu:
-                      tujuan
-                      materi pelajaran
-                      metode atau strategi pembelajaran
-                      media
-                      evaluasi

BAB IX
MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM


A. Konsep dasar mengajar
1. mengajar sebagai proses penyampaian materi pelajaran, ia memiliki karakteristik:
-                      proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered)
-                      siswa sebagai objek belajar
-                      kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu
-                      tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran
2. mengajar sebagai suatu proses mengatur lingkungan
-                      mengajar berpusat pada siswa
-                      siswa sebagai subjek belajar

B. Makna mengajar
Makna pembelajaran ditunjukkan oleh beberapa ciri sebagai berikut:
-                      pembelajaran adalah proses berpikir
-                      proses pembelajaran adalah memenfaatkan potensi otak
-                      pembelajaran berlangsung sepanjang hayat

C. Prinsip mengajar
-                      berorientasi pada tujuan
-                      aktivitas
-                      individualitas
-                      integritas
-                      interaktif
-                      inspiratif
-                      menyenangkan
-                      menantang
-                      motivasi

D. Makna belajar
-                      belajar sebagai proses perubahan tingkah laku
-                      bentuk dan hasil perbuatan belajar
Menurut Gagne ada 8 tipe perbuatan belajar, yaitu:
  1. belajar signal
2. belajar mereaksi perangsang meleluai penguatan
3. belajar membentuk rangkaian
4. belajar asosiasi verbal
5. belajar membedakan hal yang majemuk
6. belajar konsep
7. belajar kaidah atau belajar prinsip
8. belajar memecahkan masalah
dan menurutnya ada 5 tipe hasil balajar, yaitu:
  1. belajar kemahiran intelektual
  2. belajar informasi verbal
  3. belajar mengatur kegiatan intelektual
4.               belajar sikap
5.               belajar keterampilan motorik

D. Teori-teori belajar
Berangkat dari konsep manusia yang berbeda, dalam menjelaskan terjadinya perilaku, kedua aliran teori belajar yaitu aliran behavioristik elementeristik, dan aliran kognitif wholistik, memiliki perbedaan.
1. Teori Belajar Behavioristik
ciri-cirinya, yaitu:
-                      mementingkan pengaruh lingkungan
-                      mementingkan bagian-bagian
-                      mengutamakan peranan reaksi
-                      hasil belajar terbentuk sacara mekanis
-                      dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
-                      mementingkan pembentukan kebiasaan
-                      memecahkan masalah dengan cara trial and error
-                      Yang termasuk kedalam aliran behavioristik adalah:
-                      koneksionisme tokohnya Thorndike
-                      clasical conditioning tokohnya Pavlop
-                      operant conditioning tokohnya Skinner
-                      systematic behavior Tokohnya Hull
-                      contigous conditioning tokohnya Guthe
2. Teori belajar kognitif
ciri-cirinya adalah:
-                      mementingkan apa yang ada dalam diri
-                      mementingkan keseluruhsn
-                      mengutamakanfunsi kognitif
-                      terjadi keseimbangan dalam diri
-                      tergantung pada kondisi saat ini
-                      mementingkan terbentuknya fungsi kognitif
-                      memecahkan masalah dengan cara insight
Teori-teori yang termasuk kedalam kelompok kognitif wholistik yaitu:
-                      teori gestalt tokohnya Kofka, Kohler, Wertheimer
-                      teori medan tokohnya Lewin
-                      tepri organismik Tokohnya Wheeler
-                      teori humanistik tokohnya Maslow dan Rogers
-                      teori konstrutivistik


BAB X
FAKTOR PSIKOLOGIS DALAM PEMBELAJARAN

A. Motivasi
1. Pengertian dan fungsi motivasi
motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri manusia yang ditandai oleh munculnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Fungsi motivasi yaitu:
-                      mendorong siswa untuk beraktivitas
-                      sebagai pengarah
2. motivasi dan kebutuhan
Morgan menjelaskan kebutuhan siswa sebagai pedoman aktivitas sebagai berikut:
-                      kebutuhan diri sendiri sebagai penggerak kegiatan itu sendiri
-                      kebutuhan karena orang lain
-                      kebutuhan untuk mencapai hasil
-                      kebutuhan untk mengatasi kesulitan
3. Jenis-jenis motivasi
Pembagian motivasi dapat dilihat dari:
-                      perspektif kebutuhan
-                      perspektif fungsional
-                      sifat motivasi
4. Kepuasan dan motivasi
Kondisi yang dapat dilakukan untuk memberikan kepuasan pada siswa yang dapat mendorong untuk berperilaku baik, yakni:
-                      imbalan hasil belajar
-                      rasa aman dalam belajar
-                      situasi lingkungan belajar
-                      kesempatan untuk mengembangkan diri
5. Prinsip-prinsip motivasi belajar
-                      pujian lebih efektif daripada hukuman
-                      psikologis yang bersifat dasar
-                      dorongan yang muncul dari dalam
-                      respon siswa yang sesuai dengan tujuan
-                      mudah menular pada orang lain
-                      pemahaman siswa yang telas terhadap tujuan
-                      minat siswa untuk menyelesaikan tugas
-                      berbagai macam penghargaan
6. Upaya membangkitkan motivasi belajar siswa
-                      memperjelas tujuan yang ingin dicapai
-                      membangkitkan minat siswa
-                      menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
-                      berilah pujian yang wajar
-                      berikan penilaian
-                      berikan komentar
-                      ciptakan persaingan dan kerjasama

B. Pengamatan dan perhatian
Dalam aktivitas pembelajaran di sekolah, guru harus menciptaka agar siswa dapat melakukan pengamatan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kesalahan dalam menapsirkan pengamatannya. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu:
-                      membangun struktur yang jelas
-                      mendekatkan siswa pada hal tang harus dipelajari
-                      menghubungkan aspek yang di pelajari dengan pengalaman nyata siswa
-                      dalam proses pembelajaran guru harus menyelesaikan bahan pelajaran dengan tingkat perkembangan siswa
-                      hindari hal-hal yang dapat mengganggu proses pengamatan
Bagi guru, meningkatkan perhatian siswa bisa dilakuka dengan beberapa cara, yaitu:
-                      penggunaan variasi suara
-                      pemusatan perhatian
-                      kebisuan guru
-                      mengadakan kontak pandang
-                      gerak guru
-                      variasi dalam penggunaan media dan alat pembelajaran
-                      variasi dalam berinteraksi

BAB XI
GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN

A. Meningkatkan Propesional Guru
-                      guru sebagai jabatan profesional
-                      mengajar sebagai pekerjaan profesional
-                      kompetensi profesional guru
a. kompetensi pribadi
b. kompetensi profesional

B. Optimalisasi Peran Guru dalam Proses Pembelajaran
peran-peran tersebut yaitu:
-                      guru sebagai sumber belajar
-                      guru sebagai fasilitator
-                      guru sebagai pengelola
-                      guru sebagai demonstator
-                      guru sebagai pembimbing
-                      guru sebagai motivator
-                      guru sebagai evaluator

BAB XII
STRATEGI PEMBELAJARAN

A. Konsep Strategi Pembelajaran
Suatu strategi pembalajaran yang diterapkan guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan, sdangkan bagaimana menjalankan strategi itu dapat ditetapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan dengan metode, dan penggunaan teknik itu setiap guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antarta guru yang satu dengan yang lain.

B. Pertimbangan dalam Pengembangan Strategi Pembelajaran
Ada  beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan, yaitu:
-                      pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang  ingin dicapai
-                      pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran
-                      pertimbangan dari sudut siswa
-                      dan pertimbangan lainnya yang ditinjau dari strategi itu sendiri

C. Beberapa Jenis Strategi Pilihan
  1. Strategi pembelajaran Ekspositori (SPE) adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secapa verbal dari guru kepada siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Prinsip-prinsipnya yaitu:
- berorientasi pada tujuan
- prinsip komunikasi
- prinsip kesiapan
- prinsip berkelanjutan
Prosedur SPE, yaitu:
- persiapan                                           – menyimpulkan
- penyajian                                           – mengaolikasikan
- krelasi
  1. Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pastu dari suatu masalah yang dipertanyakan. Prinsipnya:
- berorientasi pada pengembangan intekektual
- prinsip berinteraksi
- prinsip bertanya
- prinsip belajar untuk berpikir
- prinsip keterbukaan
Langkah-langkahnya:
- orientasi                                            – merumuskan masalah
- merumuskan hipotesis                       – mengumpulkan data
- menguji hipotesis                  – merumuskan kesimpulan
  1. Strategi pembelajaran Koopertif (SPK) adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokkan. Prinsipnya yaitu:
- prinsip ketergantungan positif
- tanggung jawab perseorangan
- interaksi tatap muka
- partisipasi dan komunikasi
langkah-langkah SPK:
- penjelasan materi                              – penilaian
- belajar dalam kelompok                                – pengakuan tim



BAB XIII
INOVASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

A. Pengertian Inovasi
Inovasi kurikulum dan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu ide, gagasan atau tindakan-tindakan tertentu dalam bidang kurikulum dan pembelajaran yang dianggap baru untuk memecahkan masalah pendidikan.

B. Masalah Pendidikan sebagai Sumber Inovasi
1. Masalah relevansi pendidikan
- relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup siswa
- relevansi pendidikan dengan tuntutan kehidupan siswa
- relevansi kehidupan dengan dunia kerja
2. Masalah kualitas pendidikan
Rendahnya kualirtas pendidikan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:
-                      sisi proses adalah adanya anggapan bahwa salama ini proses pendidikan yang dibangun guru dianggap cenderung terbatas.
-                      Sisi hasil yaitu rendahnya kualitas pendidikan dilihat dari tidak meratanya setiap sekolah dalam mencapai rata-rata nilai ujian nasional.
3. Masalah efektiviras dan efesiensi
Suatu program pembelajaran dapat dikatakan memiliki tingkat efesiensi tinggi, manakala dengan jumlah biaya yang minimal dapat menghasilkan atau dapat mencapai tujuan yang maksimal.
4. Masalah daya tampung terbatas
Pemecahannya pemerintah harys melakukan langkah-langkah yan inovatif, yaitu langkah yang dapat menyediakan kesempatan belajar seluas-luasnya untuk mereka dengan biaya yang rendah tanpa mengurangi  mutu pendidikan.

C. Difusi dan Keputusan Inovasi
Difusi adalah proses komunikasi atau saling tukar informasi tentang suatu bentuk inovasi antara warga masyarakat sasaran sebagai penerima inovasi dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu teryentu pula. Ada 2 bentuk difusi, yaitu difusi sentralisasi dan difusi desentralisasi.
Ibrahim(1988) menyatakan ada 3 tipe keputusan penerimaan  penerimaan inovasi, yaitu:
-                      keputusan inovasi opsional adalah keputusan yang ditentukan oleh individu secara mandiri tanpa adanya pengaruh dari orang lain
-                      keputusan inovasi kolektif adalah keputusan yan didasarkan oleh kesepakatan bersama dari setiap kelompok masyarakat.
-                      Keputusan inovasi otoritas adalah keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi.

D. Hambatan-hambatan Inovasi
Ibrahim(1988) mencatat ada 6 faktor utama yan dapat menghambat suatu inovasi, yaitu:
-                      estimasi yang tidak tepat
-                      konflik dan motivasi
-                      inovasi tidak berkembang
-                      masalah finansial
-                      penolakan dari kelompok tertentu
-                      kurang adanya hubungan sosial

E. Berbagai Jenis Inovasi dalam Kurikulum dan Penbelajaran
Beberapa pembaruan (inovasi) yang telah dilakuka, antara lain:
-                      pemberlakuan KTSP
-                      penyelenggaraan sekolah lanjutan tingkat terbuka
-                      pengajaran melalui modul
-                      pembelajaran melalui komputer


BAB XIV
EVALUASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

A. Evaluasi dan Pengukuran
1. Makna evaluasi dan pengukuran
Guba dan Lincoln mendefinisikan evaluasi adalah proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Dan pengukuran adalah proses pengumpulan data yang diperlukan dalam rangka memberikan judgment yakni berupa keputusan terhadap sesuatu.
2. Fungsi evaluasi
-                      umpan balik bagi siswa
-                      untuk mengetahui ketercapain siswa dari tujuan
-                      nformasi mengembangkan kurikulum
-                      untuk pengambilan keputusan
3. Tipe evaluasi
Evaluasi selalu berhubungan dengan 2 fungsi, yaitu:
-                      fungsi sumatif yaitu apabila evaluasi digunakan untuk melihat keberhasilan suatu program yang direncanakan
-                      fungsi formatif yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk melihat kemajuan belajar siswa

B. Evaluasi Kurikulum
1. Makna evaluasi kurikulum
evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah sebagai suatu proses mengumpulkan berbagai informasi dalam rangka membuat sesuatu keputusan tentang program pendidikan.
2. Ruang lingkup evaluasi kurikulum
-                      evaluasi kurikulum sbagai suatu program atau dokumen
a. evaluasi tujuan pendidikan
b. evaluasi terhadap isi kurikulum
c. evaluasi terhadap strategi pembelajaran
d. evaluasi terhadap proram penilaian
-                      evaluasi pembelajaran sebagai implementasi kurikulum

C. Evaluasi Berbasis Kelas
1. Pengertian
penilaian berbasis kelas merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran  yang dilakukan sebagai proses pengumpulan dan pemanfaatan informasi yang menyeluruh tentang hasil belajar yang diperoleh siswa untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan kompetensi seperti yang ditentukan dalam kurikulum da sebagai umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran.
2. prinsip-prinsip penilaian berbasis kelas
-                      motivasi                                               – validitas
-                      adil                                                      – terbuka
-                      berkesinambungan                              – bermakna
-                      menyeluruh                                         – edukatif

D. Jenis-jenis Evaluasi
-                      tes
-                      non tes, seperti:
a. observasi
b.wawancara
BAB XV
PENILAIAN PORTOFOLIO

A. Pengertian
Penilaian portofolio adalah penilaian terhadap karya-karya siswa selama proses pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dikumpulkan salam a priod tertentu dan digunakan untuk mementau perkembangan siswa baik mengenai pengetahuan , keterampilan maupaunsikap siswa terhadap mata pelajaran yang bersangkutan.

B. Perbedaan tes dan portofolio
1. tes
-                      dilakukan untuk menilai kemampuan intlektual siswa
-                      peran guru sangat dominan
-                      kriteria penilaian satu untuk semua
-                      keputusan berdasarkan guru
2. portofolio
-                      dilakukan untuk menilai kemampuan intelektual, minat sikap dan keterampilan siswa
-                      peserta didik ikut berperan
-                      kriteria penilaian ditentukan dengan karakteristik siswa
-                      keputusan dilakukan secara kolaboratif antara orang tua, siswa, dan guru

C. Prinsip-prinsip penilaian portofolia
-                      saling percaya
-                      keterbukaan
-                      kerahasiaan
-                      milik bersama
-                      kepuasan dan kesesuaian
-                      budaya pembelajaran
-                      refleksi
-                      berorientasi padaproses hasil

D. Keunggulan dan Kelemahan Portofolio
Keunggulan:
-                      dapat menilai kemampuan siswa secara menyeluruh
-                      dapat menjamin akuntabilitas
-                      penilaian yan bersifat individual
-                      penilaian yang terbuka
-                      bersifat self evaluation
Kelemahannya, yaitu:
-                      memerlukan waktu dan kerja keras
-                      memerlukan perubahan cara pandang
-                      memerlukan perubahan gaya belajar
-                      memerlukan sistem pembelajaran

E. Tahapan Pelaksaan Portofolio
-                      menentukan tujuan portofolio
-                      penentuan isi portofolio
-                      menentukan kriteria dan format penilaian
-                      pengamatan dan penentuan bahan portofolio
-                      menyusun dokumen portofolio

Makalah Kurikulum Pendidikan

Sebelumnya, Coretan sedikit ini mungkin sedikit mengusik apa sekarang yg ada tentang dunia kurikulum pendidikan, yang kebanyakan ada tapi masih menyisakan banyak tanda tanya akan ketuntasan dan keberhasilan terlaksananya kurikulum di daerah kita.

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kurikulum merupakan salah satu bagian penting terjadinya suatu proses pendidikan. Karena suatu pendidikan tanpa adanya kurikulum akan kelihatan amburadul dan tidak teratur. Hal ini akan menimbulkan perubahan dalam perkembangan kurikulum, khususnya di Indonesia.
Kurikulum merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan pendidikan, dan sekaligus digunakan sebagai pedoman dalam pelaksanaan proses belajar mengajar pada berbagai jenis dan tingkat sekolah. Kurikulum menjadi dasar dan cermin falsafah pandangan hidup suatu bangsa, akan diarahkan kemana dan bagaimana bentuk kehidupan bangsa ini di masa depan, semua itu ditentukan dan digambarkan dalam suatu kurikulum pendidikan. Kurikulum haruslah dinamis dan terus berkembang untuk menyesuaikan berbagai perkembangan yang terjadi pada masyarakat dunia dan haruslah menetapkan hasilnya sesuai dengan yang diharapkan.
Sejak isu reformasi pendidikan digulirkan, maka banyak bermunculan gagasan-gagasan pembaharuan pendidikan. Reformasi sebagai sebuah gerakan yang memiliki perspektif sejarah politik monumental, karena era reformasi menjadi era pemerintahan substitusi pemerintahan orde baru. Tentunya gagasan reformasi pendidikan ini memiliki momentum yang amat mendasar dan berbeda dengan gagasan yang sama pada era sebelumnya. Arah reformasi dalam mewujudkan pengembangan pendidikan terkait dengan kebijakan kurikulum adalah ikut diperbaharuinya kurikulum yang ada sebelumnya dari kurikulum 1994 diperbaharui menjadi kurikulum 2004 atau KBK (Kurikulum Berbasis Kompetensi). Selang dua tahun kemudian KBK pun telah mengalami pembaharuan kembali menjadi KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) atau kurikulum 2006.
  1. B.     Rumusan Masalah
    1. Apakah pengertian kurikulum ?
    2. Sebutkan prinsip-prinsip kurikulum ?
    3. Apa fungsi kurikulum ?
    4. Sebutkan komponen-komponen dalam kurikulum ?
    5. Sebutkan macam-macam kurikulum ?
BAB II
PEMBAHASAN
  1. Pengertian Kurikulum
Secara etimologi, kurikulum (curriculum) berasal dari bahasa Yunani, yaitu curir yang artinya “pelari” dan curere yang berarti “tempat berpacu”. Itu berarti istilah kurikulum berasal dari dunia olah raga pada zaman Yunani Kuno di Yunani, yang mengandung pengertian suatu jarak yang harus ditempuh oleh pelari dari garis start sampai finish, kemudian di gunakan oleh dunia pendidikan.
Secara terminologi, istilah kurikulum digunakan dalam dunia pendidikan, yaitu sejumlah pengetahuan atau kemampuan yang harus ditempuh atau diselesaikan siswa guna mencapai tingkatan tertentu secara formal dan dapat dipertanggung jawabkan. Para ahli mengartikan kurikulum itu yaitu:
  1. Menurut Nasution, “Kurikulum adalah suatu rencana yang disusun untuk melancarkan proses belajar mengajar di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan beserta staf pengajarnya.”
  2. Menurut Grayson (1978), kurikulum adalah suatu perencanaan untuk mendapatkan keluaran (out- comes) yang diharapkan dari suatu pembelajaran.
  3. Menurut Harsono (2005), kurikulum merupakan gagasan pendidikan yang diekpresikan dalam praktik. Dalam bahasa latin, kurikulum berarti track atau jalur pacu. Saat ini definisi kurikulum semakin berkembang, sehingga yang dimaksud kurikulum tidak hanya gagasan pendidikan tetapi juga termasuk seluruh program pembelajaran yang terencana dari suatu institusi pendidikan.
  4. John Dewey 1902;5 kurikulum dapat diartikan sebagai pengajian di sekolah dengan mengambil kira kandungan dari masa lampau hingga masa kini. Pembentukan kurikulum menekankan kepetingn dan keperluan masyarakat.
  5. Frank Bobbit 1918, Kurikulum dapat diartikan keseluruhan pengalaman, yang tak terarah dan terarah, terumpu kepada perkembangan kebolehan individu atau satu siri latihan pengalaman langsung secara sedar digunakan oleh sekolah untuk melengkap dan menyempurnakan pendedahannya. Konsep beliau menekankan kepada pemupukan perkembangan individu melalui segala pengalaman termasuk pengalaman yang dirancangkan oleh sekolah.
  6. Menurut Hasan Kurikulum bersifat fleksibilitas mengandung dua posisi. Pada posisi pertama berhubungan dengan fleksibilitas sebagai suatu pemikiran kependidikan bagi diklat. Dengan demikian, pada posisi teoritik yang harus dikembangkan dalam kurikulum sebagai rencana. Pengertian kedua yaitu sebagai kaidah pengembang kurikulum. Terdapatnya posisi pengembang ini karena adanya perubahan pada pemikiran kependidikan atau pelatihan.
  7. Hilda Taba ;1962 Kurikulum sebagai a plan for learning, yakni sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh siswa. Sementara itu, pandangan lain mengatakan bahwa kurikulum sebagai dokumen tertulis yang memuat rencana untuk peserta didik selama di sekolah
  8. Menurut Saylor J. Gallen & William N. Alexander dalam bukunya “Curriculum Planning” menyatakan Kurikulum adalah “Keseluruhan usaha sekolah untuk mempengaruhi belajar baik berlangsung dikelas, dihalaman maupun diluar sekolah”.
  9. Menurut B. Ragan, beliau mengemukakan bahwa “Kurikulum adalah semua pengalaman anak dibawah tanggung jawab sekolah”.
  10. Menurut Soedijarto, “Kurikulum adalah segala pengalaman dan kegiatan belajar yang direncanakan dan diorganisir untuk diatasi oleh siswa atau mahasiswa untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan bagi suatu lembaga pendidikan”.
Jadi, kurikulum itu merupakan suatu usaha terencana dan terorganisir untuk menciptakan suatu pengalaman belajar pada siswa dibawah tanggung jawab sekolah atau lembaga pendidikan untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian kurikulum secara luas tidak hanya berupa mata pelajaran atau kegiatan-kegiatan belajar siswa saja tetapi segala hal yang berpengaruh terhadap pembentukan pribadi anak sesuai dengan tujuan   pendidikan yang diharapkan.
  1. Prinsip-prinsip Kurikulum
Oemar Hamalik (2001) membagi prinsip pengembangan kurikulum menjadi delapan macam, antara lain:
  1. Prinsip Berorientasi Pada Tujuan
Pengembngan kurikulum diarahkan untuk mencapai tujuan tertentu, yang bertitik tolak dari tujuan pendidikan Nasional. Tujuan kurikulum merupakan penjabaran dan upaya untuk mencapai tujuan satuan dan jenjang pendidikan tertentu. Tujuan kurikulum mengadung aspek-aspek pengetahuan, ketrampilan, sikap dan nilai. Yang selanjutnya menumbuhkan perubahan tingkah laku peserta didik yang mencakup tiga aspek tersebut dan bertalian dengan aspek-aspek yang terkandung dalam tujuan pendidikan nasional.
  1. Prinsip Relevansi (Kesesuaian)
pengembanga kurikulum yang meliputi tujuan, isi dan system penyampaian harus relevan (sesuai) dengan kebutuhan dan keadaan masyarakat, tingkat perkembangan dan kebutuhan siswa, serta serasi dengan perkembnagan ilmu pengetahuan dan tegnologi.
  1. Prinsip Efisiensi dan Efektifitas.
Pengembangan kurikulum harus mempertimbangkan segi efisien dan pendayagunaan dana, waktu, tenaga, dan sumber-sumber yang tersedia agar dapat mencapai hasil yang optimal. Dana yang terbat harus digunakan sedemikina rupa dalam rangka mendukung pelaksanaan pembelajaran. Waktu yang tersedia bagi siswa belajar disekolah juga terbatas sehingga harus dimanfaatkan secara tepat sesuai dengan tata ajaran dan bahan pembelajaran yang diperlukan. Tenaga disekolah juga sangat terbatas, baik dalam jumlah maupun dalam mutunya, hendaknya didaya gunakan secara efisien untuk melaksanakan proses pembelajaran. Demikian juga keterbatasan fasilitas ruangan, peralatan, dan sumber kerterbacaan, harus digunakan secara tepat oleh sswa dalam rangka pembelajaran, yang semuanya demi meningkatkan efektifitas atau keberhasilan siswa.
  1. Prinsip Fleksibilitas
Kurikulum yang luwes mudah disesuaikan, diubah, dilengkapi atau dikurangi berdasarkan tuntutan dan keadaan ekosistem dan kemampuan setempat, jadi tidak statis atau kaku. Misalnya dalam suatu kurikulum disediakan program pendidikan ketrampilan industri dan pertanian. Pelaksanaaan di kota, karena tidak tersedianya lahan pertanian., maka yang dialaksanakan program ketrampilan pendidikn industri. Sebaliknya, pelaksanaan di desa ditekankan pada program ketrampilan pertanian. Dalam hal ini lingkungan sekitar, keadaaan masyarakat, dan ketersediaan tenaga dan peralatan menjadi faktor pertimbangan dalam rangka pelaksanaan kurikulum.
  1. Prinsip Kontiunitas
Kurikulum disusun secara berkesinambungan, artinya bagian-bagian, aspek-spek, materi, dan bahan kajian disusun secara berurutan, tidak terlepas-lepas, melainkan satu sama lain memilik hubungan fungsional yang bermakna, sesuai dengan jenjang pendidikan, struktur dalam satuan pendidikn, tingkat perkembangan siswa. Dengan prinsip ini, tampak jelas alur dan keterkaitan didalam kurikulum tersebut sehingga mempermudah guru dan siswa dalam melaksanakan proses pembelajaran.
  1. Prinsip Keseimbangan
Penyusunan kurikulum memerhatikan keseimbangan secara proposional dan fungsional antara berbagai program dan sub-program, antara semau mata ajaran, dan antara aspek-aspek perilaku yang ingin dikembangkan. Keseimbangan juga perlu diadakan antara teori dan praktik, antara unsur-unsur keilmuan sains, sosial, humaniora, dan keilmuan perilaku. Dengan keseimbangan tersebut diaharapkan terjalin perpaduan yang lengkap dan menyeluruh, yang satu sama lainnya saling memberikan sumbangan terhadap pengembangan pribadi.
  1. Prinsip Keterpaduan
Kurikulum dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prinsip keterpaduan, perencanaan terpadu bertitik tolak dari masalah atau topik dan konsistensi antara unsur-unsusrnya. Pelaksanaan terpadu dengan melibatkan semua pihak, baik di lingkungan sekolah maupun pada tingkat inter sektoral. Dengan keterpaduan ini diharapkan terbentuk pribadi yang bulat dan utuh. Diamping itu juga dilaksanakan keterpaduan dalam proses pembalajaran, baik dalam interaksi antar siswa dan guru maupun antara teori dan praktek.
  1. Prinsip Mutu
Pengembangan kurikulum berorientasi pada pendidikan mutu, yang berarti bahwa pelaksanaan pembelajaran yang bermutu ditentukan oleh derajat mutu guru, kegiatan belajar mengajar, peralatan,/media yang bermutu. Hasil pendidikan yang bermutu diukur berdasarkan kriteria tujuan pendidikan nasional yang diaharapkan.
  1. Fungsi Kurikulum
Fungsi kurikulum menurut Hendyat Soetopo Wasty Soemanto
  1. kurikulum berfungsi sebagai media untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan yang ingin dicapai.
  2. kurikulum juga berpungsi bagi perkembangan siswa karena kurikulum berperan organisasi belajar ( learning oprganisatior) yang tersusun dengan cermat.
  3. sebagai pedoman kerja dalam menyusun dan mengorganisir pengalaman belajar siswa.
  4. sebagai pedoman untuk mengadakan evaluasi terhadap tingkat perkembangan siswa dalam rangka menyerap sejumlah ilmu pengetahuan sebagai pengalaman  bagi mereka.
Berkaitan dengan fungsi kurikulum bagi siswa sebagai subjek didik, terdapat enam fungsi kurikulum, yaitu :
1)      Fungsi Penyesuaian
Fungsi penyesuaian mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mengarahkan siswa agar memiliki sifat well adjusted yang mampu menyesuaikan dirinya dengan lingkungan, baik lingkungan fisik maupun lingkungan social. Lingkungan itu sendiri senantiasa mengalami perubahan dan bersifat dinamis. Oleh karena itu, siswa pun harus memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di lingkungannya.
2)      Fungsi Integrasi
Fungsi integrasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu menghasilkan pribadi-pribadi yang utuh. Siswa pada dasarnya merupakan anggota dan bagian integral dari masyarakat. Oleh karena itu, siswa harus memiliki kepribadian yang dibutuhkan untuk dapat hidup dan berintegrasi dengan masyarakatnya.
3)      Fungsi Diferensiasi
Fungsi diferensiasi mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu memberikan pelayanan terhadap perbedaan individu siswa. Setiap siswa memiliki perbedaan, baik dari aspek fisik maupun psikis yang harus dihargai dan dilayani dengan baik.
4)      Fungsi Persiapan
Fungsi persiapan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu mempersiapkan siswa untuk melanjutkan studi ke jenjang pendidikan berikutnya. Selain itu, kurikulum juga diharapkan dapat mempersiapkan siswa untuk dapat hidup dalam masyarakat seandainya sesuatu hal, tidak dapat melanjutkan pendidikannya.
5)      Fungsi Pemilihan
Fungsi pemilihan mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membarikan kesempatan kepada siswa untuk memilih program-program belajar yang sesuai dengan kemapuan dan minatnya. Fungsi pemilihan ini sangat erat hubungannya dengan fungsi diferensiasi, karena pengakuan atas adanya perbedaan individual siswa berarti pula diberinya kesempatan bagi siswa tersebut untuk memilih apa yang sesuai dengan minat dan kemampuannya. Untuk mewujudkan kedua fungsi tersebut, kurikulum perlu disusun secara lebih luas dan bersifat fleksibel.
6)      Fungsi Diagnostik
Fungsi diagnostic mengandung makna bahwa kurikulum sebagai alat pendidikan harus mampu membantu dan mengarahkan siswa untuk dapat memahami dan menerima kekuatan (potensi) dan kelemahan yang dimilikinya. Apabila siswa sudah mampu memahami kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan yang ada pada dirinya, maka diharapkan siswa dapat mengambangkan sendiri kekuatan yang dimilikinya aau memperbaiki kelemahan-kelemahannya.
  1. Komponen-komponen Dalam Kurikulum
Nana Syaodih. Sukmadinata mengemukakan empat komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama  adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sistem penyampaian serta evaluasi.
  1. 1.      Tujuan
Tujuan sebagai sebuah komponen kurikulum adalah kekuatan-kekuatan fundamental yang peka sekali, karena hasil kurikuler yang diinginkan tidak hanya mempengaruhi bentuk kurikulum, tetapi memberi arahan dan fokus untuk seluruh program pendidikan.
  1. 2.      Materi atau Pengalaman Belajar
Fungsi khusus dari kurikulum pendidikan formal adalah memilih dan menyusun isi (materi/pengalaman belajar) agar keinginan tujuan kurikulum dapat dicapai dengan cara paling efektif dan supaya pengetahuan paling penting yang diinginkan pada jalurnya dapat disajikan secara efektif
  1. 3.      Organisasi
Menurut (Taba, 1962 : 290), jika kurikulum merupakan suatu rencana untuk belajar maka isi dan pengalaman belajar membutuhkan pengorganisasian sedemikian rupa sehingga berguna bagi tujuan-tujuan pendidikan. Menurut pendapar Taba ini, materi dan pengalaman belajar dalam kurkulum diorganisasikan untuk mengefektifkan pencapaian tujuan.
  1. 4.      Evaluasi
Evaluasi adalah komponen keempat dari kurikulum. Evaluasi ditujukan untuk melakukan evaluasi terhadap belajar siswa (hasil dan proses) maupun keefektifan kurikulum dan pembelajaran. Menurut (Zais, 1976 : 378) mengemukakan evaluasi secara luas merupakan suatu usaha sangat besar yang kompleks yang mecoba menantang mengkodifikasi proses salah satu dari istilah sekuensi atau komponen-komponen. Kegiatan evaluasi akan memberikan informasi dan data tentang perkembangan belajar siswa maupun keefektifan kurikulum dan pembelajaran, sehingga dapat dibuat keputusan-keputusan pembelajaran dan pendidikan secara tepat.
  1. Macam-macam Kurikulum
  1. Rencana Pelajaran 1947
Kurikulum pertama pada masa kemerdekaan namanya Rencana Pelajaran 1947. Ketika itu penyebutannya lebih populer menggunakan leer plan (rencana pelajaran) ketimbang istilah curriculum dalam bahasa Inggris. Rencana Pelajaran 1947 bersifat politis, yang tidak mau lagi melihat dunia pendidikan masih menerapkan kurikulum Belanda, yang orientasi pendidikan dan pengajarannya ditujukan untuk kepentingan kolonialis Belanda. Asas pendidikan ditetapkan Pancasila. Situasi perpolitikan dengan gejolak perang revolusi, maka Rencana Pelajaran 1947, baru diterapkan pada tahun 1950. Oleh karena itu Rencana Pelajaran 1947 sering juga disebut kurikulum 1950. Susunan Rencana Pelajaran 1947 sangat sederhana, hanya memuat dua hal pokok, yaitu daftar mata pelajaran dan jam pengajarannya, serta garis-garis besar pengajarannya. Rencana Pelajaran 1947 lebih mengutamakan pendidikan watak, kesadaran bernegara, dan bermasyarakat, daripada pendidikan pikiran. Materi pelajaran dihubungkan dengan kejadian sehari-hari, perhatian terhadap kesenian, dan pendidikan jasmani. Mata pelajaran untuk tingkat Sekolah Rakyat ada 16, khusus di Jawa, Sunda, dan Madura diberikan bahasa daerah. Daftar pelajarannya adalah Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat, Ilmu Bumi, Sejarah, Menggambar, Menulis, Seni Suara, Pekerjaan Tangan, Pekerjaan Keputrian, Gerak Badan, Kebersihan dan Kesehatan, Didikan Budi Pekerti, dan Pendidikan Agama. Pada awalnya pelajaran agama diberikan mulai kelas IV, namun sejak 1951 agama juga diajarkan sejak kelas 1. Garis-garis besar pengajaran pada saat itu menekankan pada cara guru mengajar dan cara murid mempelajari. Misalnya, pelajaran bahasa mengajarkan bagaimana cara bercakap-cakap, membaca, dan menulis. Ilmu Alam mengajarkan bagaimana proses kejadian sehari-hari, bagaimana mempergunakan berbagai perkakas sederhana (pompa, timbangan, manfaat bes berani), dan menyelidiki berbagai peristiwa sehari-hari, misalnya mengapa lokomotif diisi air dan kayu, mengapa nelayan melaut pada malam hari, dan bagaimana menyambung kabel listrik. Pada perkembangannya, rencana pelajaran lebih dirinci lagi setiap pelajarannya, yang dikenal dengan istilah Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. Seorang guru mengajar satu mata pelajaran”. Pada masa itu juga dibentuk Kelas Masyarakat. yaitu sekolah khusus bagi lulusan SR 6 tahun yang tidak melanjutkan ke SMP. Kelas masyarakat mengajarkan keterampilan, seperti pertanian, pertukangan, dan perikanan. Tujuannya agar anak tak mampu sekolah ke jenjang SMP, bisa langsung bekerja.
  1.  Rencana Pelajaran Terurai 1952
Kurikulum ini lebih merinci setiap mata pelajaran yang disebut Rencana Pelajaran Terurai 1952. “Silabus mata pelajarannya jelas sekali. seorang guru mengajar satu mata pelajaran,” kata Djauzak Ahmad, Direktur Pendidikan Dasar Depdiknas periode 1991-1995. Ketika itu, di usia 16 tahun Djauzak adalah guru SD Tambelan dan Tanjung Pinang, Riau. Di penghujung era Presiden Soekarno, muncul Rencana Pendidikan 1964 atau Kurikulum 1964. Fokusnya pada pengembangan daya cipta, rasa, karsa, karya, dan moral (Pancawardhana). Mata pelajaran diklasifikasikan dalam lima kelompok bidang studi: moral, kecerdasan, emosional/artistik, keprigelan (keterampilan), dan jasmaniah. Pendidikan dasar lebih menekankan pada pengetahuan dan kegiatan fungsional praktis.
  1. Kurikulum 1968
Kelahiran Kurikulum 1968 bersifat politis: mengganti Rencana Pendidikan 1964 yang dicitrakan sebagai produk Orde Lama. Tujuannya pada pembentukan manusia Pancasila sejati. Kurikulum 1968 menekankan pendekatan organisasi materi pelajaran: kelompok pembinaan Pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Jumlah pelajarannya 9. Djauzak menyebut Kurikulum 1968 sebagai kurikulum bulat. “Hanya memuat mata pelajaran pokok-pokok saja,” katanya. Muatan materi pelajaran bersifat teoritis, tak mengaitkan dengan permasalahan faktual di lapangan. Titik beratnya pada materi apa saja yang tepat diberikan kepada siswa di setiap jenjang pendidikan.
  1. Kurikulum 1975
Kurikulum 1975 menekankan pada tujuan, agar pendidikan lebih efisien dan efektif. “Yang melatarbelakangi adalah pengaruh konsep di bidang manejemen, yaitu MBO (management by objective) yang terkenal saat itu,” kata Drs. Mudjito, Ak, MSi, Direktur Pembinaan TK dan SD Depdiknas. Metode, materi, dan tujuan pengajaran dirinci dalam Prosedur Pengembangan Sistem Instruksional (PPSI). Zaman ini dikenal istilah “satuan pelajaran”, yaitu rencana pelajaran setiap satuan bahasan. Setiap satuan pelajaran dirinci lagi: petunjuk umum, tujuan instruksional khusus (TIK), materi pelajaran, alat pelajaran, kegiatan belajar-mengajar, dan evaluasi. Kurikulum 1975 banyak dikritik. Guru dibikin sibuk menulis rincian apa yang akan dicapai dari setiap kegiatan pembelajaran.
  1.  Kurikulum 1984
Kurikulum 1984 mengusung process skill approach. Meski mengutamakan pendekatan proses, tapi faktor tujuan tetap penting. Kurikulum ini juga sering disebut “Kurikulum 1975 yang disempurnakan”. Posisi siswa ditempatkan sebagai subjek belajar. Dari mengamati sesuatu, mengelompokkan, mendiskusikan, hingga melaporkan. Model ini disebut Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) atau Student Active Leaming (SAL). Tokoh penting dibalik lahirnya Kurikulum 1984 adalah Profesor Dr. Conny R. Semiawan, Kepala Pusat Kurikulum Depdiknas periode 1980-1986 yang juga Rektor IKIP Jakarta sekarang Universitas Negeri Jakarta  periode 1984-1992. Konsep CBSA yang elok secara teoritis dan bagus hasilnya di sekolah-sekolah yang diujicobakan, mengalami banyak deviasi dan reduksi saat diterapkan secara nasional. Sayangnya, banyak sekolah kurang mampu menafsirkan CBSA. Yang terlihat adalah suasana gaduh di ruang kelas lantaran siswa berdiskusi, di sana-sini ada tempelan gambar, dan yang menyolok guru tak lagi mengajar model berceramah. Penolakan CBSA bermunculan.
  1. Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999
Kurikulum 1994 bergulir lebih pada upaya memadukan kurikulum-kurikulum sebelumnya. “Jiwanya ingin mengkombinasikan antara Kurikulum 1975 dan Kurikulum 1984, antara pendekatan proses,” kata Mudjito menjelaskan. Sayang, perpaduan tujuan dan proses belum berhasil. Kritik bertebaran, lantaran beban belajar siswa dinilai terlalu berat. Dari muatan nasional hingga lokal. Materi muatan lokal disesuaikan dengan kebutuhan daerah masing-masing, misalnya bahasa daerah kesenian, keterampilan daerah, dan lain-lain. Berbagai kepentingan kelompok-kelompok masyarakat juga mendesakkan agar isu-isu tertentu masuk dalam kurikulum. Walhasil, Kurikulum 1994 menjelma menjadi kurikulum super padat. Kejatuhan rezim Soeharto pada 1998, diikuti kehadiran Suplemen Kurikulum 1999. Tapi perubahannya lebih pada menambal sejumlah materi.
  1. Kurikulum 2004
Bahasa kerennya Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Setiap pelajaran diurai berdasar kompetensi apakah yang mesti dicapai siswa. Sayangnya, kerancuan muncul bila dikaitkan dengan alat ukur kompetensi siswa, yakni ujian. Ujian akhir sekolah maupun nasional masih berupa soal pilihan ganda. Bila target kompetensi yang ingin dicapai, evaluasinya tentu lebih banyak pada praktik atau soal uraian yang mampu mengukur seberapa besar pemahaman dan kompetensi siswa. Meski baru diujicobakan, toh di sejumlah sekolah kota-kota di Pulau Jawa, dan kota besar di luar Pulau Jawa telah menerapkan KBK. Hasilnya tak memuaskan. Guru-guru pun tak paham betul apa sebenarnya kompetensi yang diinginkan pembuat kurikulum.
  1. KTSP 2006
Awal 2006 ujicoba KBK dihentikan. Muncullah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Pelajaran KTSP masih tersendat. Tinjauan dari segi isi dan proses pencapaian target kompetensi pelajaran oleh siswa hingga teknis evaluasi tidaklah banyak perbedaan dengan Kurikulum 2004. Perbedaan yang paling menonjol adalah guru lebih diberikan kebebasan untuk merencanakan pembelajaran sesuai dengan lingkungan dan kondisi siswa serta kondisi sekolah berada. Hal ini disebabkan karangka dasar (KD), standar kompetensi lulusan (SKL), standar kompetensi dan kompetensi dasar (SKKD) setiap mata pelajaran untuk setiap satuan pendidikan telah ditetapkan oleh Departemen Pendidikan Nasional.
BAB III
PENUTUP
  1. Kesimpulan
Kurikulum adalah sejumlah rencana isi yang merupakan sejumlah tahapan belajar yang di desain untuk siswa dengan petunjuk institusi pendidikan yang berupa proses yang statis ataupun dinamis dan kompetensi yang harus dimiliki. Kurikulum adalah seluruh pengalaman di bawah bimbingan dan arahan dari institusi pendidikan yang membawa ke dalam kondisi belajar.
Kurikulum mempunyai komponen-komponen yang mempunyai tujuan utama atau tujuan dari kurikulum tersebut. Karena komponen-komponen tersebut saling berkaitan dan menunjang untuk mencapai tujuan dari kurikulum maka di sebutlah kurikulum sebagai suatu sistem.
Pengembangan kurikulum haruslah memperhatikan prinsip-prinsip kurikulumnya yang terdiri dari tujuh prinsip pengembangan kurikulum antara lain : relevansi, efektivitas, efisiensi, fleksibilitas, kontinuitas, objektifitas dan demokrasi.
  1. Saran
Kebutuhan pendidikan kini semakin kompleks, begitu pula dengan kebutuhan kurikulum yang ada juga semakin berkembang, maka disarankan agar tiap sekolah atau lembaga pendidikan menerapkan suatu sistem kurikulum yang sesuai dengan keadaan lingkungan sekolahnya, karena sesuai dengan ketetapan pemerintah kurikulum yang digunakan saat ini adalah kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP), maka sudah selayaknya pihakpengembang kurikulum mengembagkan kurikulum sesuai dengan potensi daerahnya. Oleh karena itu, tujuan, isi, maupun proses pendidikan harus disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi, karakteristik, kekayaan dan perkembangan yang ada di masyakarakat.
Semua itu pasti ada tujuan yang tersirat layaknya tujuan pribadi, pemerintah juga mempunyai tujuan mulia dan agung yang bisa di realisasikan dengan cara ikut membantu dari berbagai sudut pandang yang realistis.