Friday, July 11, 2014

Makalah Budaya Kerja yang baik

  Secara umum dunia kerja mempunya cara dan metode yang sesuai dengan tipikal secara umum sistem budaya kerja yang baik dan profesional dan kompeten. Hal ini dimaksudkan agar para pekerja tahu akan apa yang hendak di tanamkan pada dirinya maing masing sebelum terjun di dunia kerja nyata.
 
BAB II. PEMBAHASAN

          A. Pengertian Budaya Kerja

A.1  Arti Definisi / Pengertian Budaya Kerja
Budaya Kerja adalah suatu falsafah dengan didasari pandangan hidup sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan dan juga pendorong yang dibudayakan dalam suatu kelompok dan tercermin dalam sikap menjadi perilaku, cita-cita, pendapat, pandangan serta tindakan yang terwujud sebagai kerja. (Sumber : Drs. Gering Supriyadi,MM dan Drs. Tri Guno, LLM )
Arti Definisi / Pengertian Budaya Dan KebudayaanBudaya secara harfiah berasal dari Bahasa Latin yaitu Colere yang memiliki arti mengerjakan tanah, mengolah, memelihara ladang (menurutSoerjanto Poespowardojo 1993). Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar.Tujuan Atau Manfaat Budaya KerjaBudaya kerja memiliki tujuan untuk mengubah sikap dan juga perilaku SDM yang ada agar dapat meningkatkan produktivitas kerja untuk menghadapi berbagai tantangan di masa yang akan datang.Manfaat dari penerapan Budaya Kerja yang baik :1. meningkatkan jiwa gotong royong2. meningkatkan kebersamaan3. saling terbuka satu sama lain4. meningkatkan jiwa kekeluargaan5. meningkatkan rasa kekeluargaan6. membangun komunikasi yang lebih baik7. meningkatkan produktivitas kerja8. tanggap dengan perkembangan dunia luar, dll.
Pengertian Budaya Kerja menurut para ahli
Menurut Koentjaraningrat budaya adalah keseluruhan sistem gagasan tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan miliki diri manusia dengan cara belajar.
Menurut The American Herritage Dictionary mengartikan kebudayaan adalah sebagai suatu keseluruhan dari pola perilaku yang dikirimkan melalui kehidupan sosial, seniagama, kelembagaan, dan semua hasil kerja dan pemikiran manusia dari suatu kelompok manusia.
Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.
Setelah membahas apa arti dari Budaya tersebut, selanjutnya akan membahas tentang apa arti dari Kerja. Kerja adalah melakukan sesuatu hal yang diperbuat seperti contohnya makan atau minum. Adapun arti lain dari Kerja yaitu melakukan sesuatu untuk mencari nafkah.
Selain pengertian kerja dalam kacamata islam yaitu Kerja pada hakekatnya adalahnya manifestasi amal kebajikan. Sebagai sebuah amal, maka niat dalam menjalankannya akan menentukan penilaian.
Jadi bila kata Budaya dan Kerja digabungkan memiliki pengertian yaitu nilai-nilai sosial atau suatu keseluruhan pola perilaku yang berkaitan dengan akal dan budi manusia dalam melakukan suatu pekerjaan.
Jadi setiap individu yang bekerja harus memiliki budaya kerja yang baik. Budaya yang kerja yang baik sangat diperluukan agar menjadi pekerja yang berbudi pekerti dan mengerti nilai-nilai yang dijalaninya. Dan tidak membawa individu kepada penyimpangan. Jadi itulah perlunya kita memahami budaya kerja yang baik.
Setelah kita membahasa tentang pengertian dari Budaya Kerja sekarang kita akan membahas tentang apa dari tujuan Budaya Kerja ini dalam kegiatan sehari-hari. Budaya Kerja memiliki berbagai macam tujuan. Berikut adalah tujuan-tujuan dari Budaya Kerja :
Dapat memahami budaya kerja suatu perusahaan.
Dapat mengimplementasikan Budaya Kerja di tempat kerja.
Menciptakan suasana harmonis dengan partner kerja atau dengan klien.
Membangun rasa kerja sama terhadap rekan kerja dalam team.
Bisa beradaptasi dengan lingkungan secara baik.
Mengenal norma-norma dalam suatu pekerjaan.
Selain memiliki tujuan, Budaya Kerja juga memiliki manfaat dari budaya kerja itu sendiri. Berikut adalah manfaat dari budaya kerja dalam suatu pekerjaan :
Menjamin hasil kerja dengan kualitas yang baik.
Keterbukaan antara para individu dalam melakukan pekerjaan.
Saling bergotong royong apabila dalam suatu pekerjaan ada masalah yang sulit.
Menimbulkan rasa kebersamaan antara individu dengan individu lain dalam pekerjaan.
Cepat menyesuaikan diri dengan perkembangan yang terjadi di dunia luar
( Teknologi, Masyarakat, Sosial, Ekonomi dll. )
Jadi kita dapat menarik kesimpulan dari tujuan dan manfaat dari budaya kerja. Budaya kerja sangat penting dalam dunia pekerjaan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan seseorang dan dapat mengerti nilai-nilai yang terkandung dalam budaya kerja tersebut. Sehingga individu ini dapat menjadi karyawan atau pekerja yang baik dan bermanfaat bagi perusahaan yang mempekerjakannya.
Oleh sebab itu, penting bagi perusahaan untuk memberikan pengetahuan kepada para pekerja atau karyawannya tentang budaya kerja. Karena selain memberikan dan menambah wawasan untuk para karyawannya perusahaan juga dapat meningkatkan kualitas produksi yang dihasilkan oleh perusahaan dan berdampak positif bagi perusahaan. Karena dengan diberikan penyuluhan tentang budaya kerja para pekerja atau karyawan akan menambahkan rasa semangat untuk bekerja, menimbulkan rasa disiplin atas pekerjaanya dan akan menggugah rasa tanggung jawab terhadap pekerjaan yang dilakukan oleh seorang pekerja atau karyawan.

A.2 Model – model Budaya Kerja

Berikut adalah contoh-contoh model budaya kerja berdasarkan Kajian-kajian yang dilakukan mengenai budaya kerja organisasi telah menampilkan beberapa model tertentu yaitu budaya autoritarian, budaya birokratik, budaya tugas, budaya individualistik, budaya tawar- menawar dan budaya kolektiviti .
Berikut adalah penjelasannya :
1. Budaya Kerja Autoritarian Budaya kerja jenis ini menumpukan kepada ‘command and control’. Kuasa dan autoriti dalam organisasi biasanya terpusat kepada pemimpinnya yang seringkali disanjung sebagai , hero’ .Pekerja akan diharapkan untuk memperlihatkan kesetiaan yang tinggi kepada pemimpin. Arahan dan peraturan dihantar dari atas menuju ke dasar organisasi.
Budaya bentuk ini seringkali diamalkan dengan berkesan dalam organisasi yang bersaiz kecil seperti pemiagaan keluarga, syarikat kecil dan firma sederhana. Bagaimanapun terdapat agensi swasta yang melaksanakan budaya kerja ini dimana keputusan ditentukan oleh pengasas atau pemegang saham utama, manakala pekerja tidak mempunyai suara kecuali sebahagian kecil individu dalam organisasi yang diberi kepercayaan oleh pemilik atau pemegang saham utama tadi. Asas kepercayaan boleh berdasarkan kepada unsure nepotisme, kronisme, peribadi atau mungkin juga kecekapan.
Dengan demikian hubungan personal yang rapat dengan pihak atasan adalah faktor penting dalam kelancaran pekerjaan dan kenaikan pangkat. Oleh itu bagi menjaga kepentingan, pekerja cenderung untuk bersikap ‘yes man , dan ‘play safe’ daripada memberi pandangan kritikal bagi menjaga kedudukan dan kepentingan masing-masing.

2. Budaya Kerja Birokratik Budaya kerja birokratik ini berasaskan kepada konsep bahawa organisasi boleh diurus dengan cekap menerusi kaedah pengurusan bersifat impersonal, rasional, autoriti dan formaliti. Impersonal bermaksud setiap pekerja tertakluk kepada peraturan dan prosedur yang sama dan harus menerima layanan yang sama. Peraturan dan prosedur tersebut adalah dilaksanakan secara formal untuk mengingatkan pekerja akan etika dan keperluan yang dikehendaki daripada mereka.
Jawatan dalam organisasi adalah disusun mengikut hierarki supaya tanggungjawab, penyeliaan, autoriti dan akauntabiliti jelas dan mudah diikuti. Manakala untuk mempastikan kelancaran dan kecekapan kerja, pengkhususan tugas dilakukan iaitu dengan memecah- mecahkan kerja menjadi lebih spesifik supaya pekerja mudah menguasai dan cekap melakukannya. Dalam masa yang sama, faktor meritokrasi digunapakai dalam organisasi iaitu pengambilan pekerja, kenaikan pangkat dan pemberian ganjaran diberi berdasarkan kebolehan dan prestasi kerja masing-masing.

3. Budaya Kerja Fungsional Organisasi-organisasi kerja yang berjaya di Barat sering mengamalkan budaya kerja fungsional atau ‘project-based’ ini. Dalam konsep fungsional, kerja dalam organisasi dibagi dan ditugaskan kepada individu atau pasukan tertentu. Projek yang paling penting akan diserahkan kepada pekerja atau sekumpulan pekerja yang paling berkemampuan. Apabila projek tersebut selesai, maka tugas individu atau kumpulan akan selesai dan kumpulan baru pula akan dibentuk bagi melaksanakan projek yang lain.
Oleh itu, struktur kumpulan adalah fleksibel dan interaksi adalah berasaskan kemahiran dan hormat-menghormati. Keputusan akan diperolehi selepas perbincangan, perundingan dan persetujuan para anggota projek. Oleh itu kejayaan dinilai berasaskan kebolehan menyempurnakan projek yang memuaskan pelanggan. Bekerja secara bersama bagi menjayakan sesuatu projek ini membentuk solidariti pekerja dan mendorong penyesuaian antara personaliti yang berbeza kerana mereka sama-sama bertanggungjawab kepada kejayaan organisasi.

4. Budaya Kerja Individualistik Dalam organisasi yang mengamalkan budaya kerja ini, individu tertentu menjadi tumpuan utama. Terdapat universiti yang bergantung kepada profesor ternama untuk menarik pelajar dan mendapatkan tajaan. Begitu juga firma konsultansi atau guaman biasanya bergantung penuh kepada individu (konsultan atau peguam) tertentu yang popular bagi menarik pelanggan. Dalam organisasi seperti ini segelintir kecil pekerja adalah tulang belakang kejayaan syarikat kerana mereka mempunyai reputasi, kredibiliti, kepandaian dan keterampilan. Kebolehan mendapatkan pelanggan seringkali menyebabkan mereka kurang terikat kepada peraturan dan prosedur. Kenaikan pangkat sepenuhnya bergantung kepada meritokrasi kerana setiap orang perlu membuktikan bahawa mereka memberi sumbangan yang lebih daripada orang lain kepada organisasi.

5. Budaya Kerja Tawar Menawar Dalam organisasi jenis ini, kesatuan pekerja diiktiraf sebagai bagian utama dalam organisasi. Kesatuan sekerja berfungsi untuk menjaga kepentingan pekerja dan membantu pengurusan mencapai matlamat organisasi. Perundingan dan tawar menawar berlangsung berdasarkan perundangan dan prosedur yang diakui oleh kedua-dua belah pihak. Meskipun pertikaian dan pertentangan pendapat kadangkala berlaku antara kesatuan sekerja dan majikan, tetapi ia sering dapat diselesaikan di meja rundingan. Dari satu segi pihak pengurusan boleh mendapat pandangan wakil kesatuan sekerja bagi melaksanakan peraturan, sistem dan ganjaran. Manakala kesatuan sekerja akan mempastikan hak, kepentingan dan kebajikan pekerja diberi jaminan. Secara keseluruhannya pendekatan ini yang berkonsepkan hubungan rapat majikan pekerja bertujuan untuk mewujudkan situasi menang-menang antara kedua belah pihak.

6. Budaya Kerja Kolektif Dikatakan bahawa antara kunci kejayaan organisasi Jepun adalah kebolehan mereka untuk menggunakan idea dan cadangan pekerja bawahan. Ini karena pekerja adalah ‘pemilik proses kerja’ dan mereka lebih mengetahui tentang sistem dan tatacara melaksanakan kerja berbanding orang lain. Dengan itu pekerja diberi peluang untuk mengemukakan cadangan dan kreativitas bagi memperbaiki proses kerja, sistem dan prosedur.
Dalam budaya kerja ada hal lain yang berkaitan dengan budaya kerja. Yaitu Etos kerja yang  dapat diartikan sebagai konsep tentang kerja atau paradigma kerja yang diyakini oleh seseorang atau sekelompok orang sebagai baik dan benar yang diwujudnyatakan melalui perilaku kerja mereka secara khas (Sinamo, 2003,2).

Etos kerja berhubungan dengan beberapa hal penting seperti:
a. Orientasi ke masa depan, yaitu segala sesuatu direncanakan dengan baik, baik waktu, kondisi untuk ke depan agar lebih baik dari kemarin.
b. Menghargai waktu dengan adanya disiplin waktu merupakan hal yang sangat penting guna efesien dan efektivitas bekerja.
c. Tanggung jawab, yaitu memberikan asumsi bahwa pekerjaan yang dilakukan merupakan sesuatu yang harus dikerjakan dengan ketekunan dan kesungguhan.
d. Hemat dan sederhana, yaitu sesuatu yang berbeda dengan hidup boros, sehingga bagaimana pengeluaran itu bermanfaat untuk kedepan.
e. Persaingan sehat, yaitu dengan memacu diri agar pekerjaan yang dilakukan tidak mudah patah semangat dan menambah kreativitas diri.

Aspek Kecerdasan yang Perlu Dibina dalam Diri, untuk Meningkatkan Etos Kerja :
1. Kesadaran : keadaan mengerti akan pekerjaanya.
2. Semangat : keinginan untuk bekerja.
3. Kemauan : apa yang diinginkan atau keinginan, kehendak dalam bekerja.
4. Komitmen : perjanjian untuk melaksanakan pekerjaan (janji dalam bekerja).
5. Inisiatif : usaha mula-mula, prakarsa dalam bekerja.
6. Produktif : banyak menghasilkan sesuatu bagi perusahaan.
7. Peningkatan : proses, cara atau perbuatan meningkatkan usaha, kegiatan dan sebagainya dalam bekerja.
8. Wawasan : konsepsi atau cara pandang tentang bekerja.(Siregar, 2000, p.24)

Dan ada pula cara-cara menumbuhkan etos kerja kepada individu yaitu, sebagai berikut :
1. Menumbuhkan sikap optimis :
- Mengembangkan semangat dalam diri
- Peliharalah sikap optimis yang telah dipunyai
- Motivasi diri untuk bekerja lebih maju
2. Jadilah diri anda sendiri :
- Lepaskan impian
- Raihlah cita-cita yang anda harapkan
3. Keberanian untuk memulai :
- Jangan buang waktu dengan bermimpi
- Jangan takut untuk gagal
- Merubah kegagalan menjadi sukses
4. Kerja dan waktu :
- Menghargai waktu (tidak akan pernah ada ulangan waktu)
- Jangan cepat merasa puas
5. Kosentrasikan diri pada pekerjaan :
- Latihan berkonsentrasi
- Perlunya beristirahat
6. Bekerja adalah sebuah panggilan Tuhan(Khasanah, 2004)
Budaya Kerja Menurut kamus Webster, budaya adalah ide, adat, keahlian, seni, dan lain-lain yang diberikan oleh manusia dalam waktu tertentu. Budaya menyangkut moral, sosial, norma-norma perilaku yang mendasarkan pada kepercayaan, kemampuan dan prioritas anggota organisasi.

    Budaya kerja merupakan sistem nilai, persepsi, perilaku dan keyakinan yang dianut oleh tiap individu karyawan dan kelompok karyawan tentang makna kerja dan refleksinya dalam kegiatan mencapai tujuan organsiasi dan individual.
     Budaya kerja penting dikembangkan karena dampak positifnya terhadap pencapaian perubahan berkelanjutan ditempat kerja termasuk peningkatan produktivitas ( kinerja ).
    Budaya kerja diturunkan dari budaya organisasi. Budaya Organisasi itu sendiri merupakan  sistem nilai yang mengandung cita-cita organisasi sebagai sistem internal dan sistem eksternal sosial. Hal itu tercermin dari isi visi, misi, dan tujuan organisasi. Dengan kata lain, seharusnya setiap organisasi memiliki identitas budaya tertentu dalam organisasinya. Dalam perusahaan dikenal sebagai budaya korporat dimana didalamnya terdapat budaya kerja.
    Kekuatan yang paling kuat mempengaruhi budaya kerja adalah kepercayaan dan juga sikap para pegawai. Budaya kerja dapat positif, namun dapat juga negatif. Budaya kerja yang bersifat positif dapat meningkatkan produktifitas kerja, sebaliknya yang bersifat negatif akan merintangi perilaku, menghambat efektivitas perorangan maupun kelompok dalam organisasi.
    
    Aktualisasi budaya kerja produktif sebagai ukuran sistem nilai mengandung komponen-komponen yang dimiliki seorang karyawan, yakni :
1.      Pemahaman substansi dsar tentang makna bekerja
2.      Sikap terhadap pekrjaan dan lingkungan pekerjaan
3.      Perilaku ketika bekerja
4.      Etos Kerja
5.      Sikap terhadap waktu
6.      Cara atau alat yang digunakan untuk bekerja.
    Semakin  positif nilai komponen-komponen budaya tersebut dimiliki oleh seseorang karyawan, maka akan semakin tinggi kinerjanya. Ceteris paribus. Agar budaya kerja dapat tumbuh berkembang dengan subur dikalangan karyawan dan staf, maka dibutuhkan pendekatan-pendekatan melalui tindakan manajemen puncak dan proses sosialisasi   
    
1.      Tindakan manajemen puncak
a.       Apa yang dikatakan manajemen puncak akan menjadi panutan.
b.    Bagaimana manajemen puncak berperilaku akan menunjukkan karyawan bersikap dalam berkomunikasi dan berprestasi untuk mencapai standar kerja perusahaan.
c. Bagaimana manajemen puncak menegakkan norma-norma kerja akan menumbuhkan integritas dan komitmen karyawan yang tinggi.
d.    Imbalan dan hukuman yang diberikan manajemen puncak akan memacu karyawan untuk meningkatkan semangat dan disiplin kerja.

2.      Proses Sosialsiasi
    Proses sosialisasi dilakukan dalam bentuk advokasi bagi karyawan baru untuk penyesuaian diri dengan budaya organisasi. Sosialisasi dilakukan ketika mereka sedang dalam tahap penyeleksian atau pra tanda tangan.
    Tiap calon karyawan mengikuti pembelajaran sebelum diterima. Setelah diterima para karyawan baru melihat kondisi organisasi sebenarnya dan menganalisis harapan-kenyataan, antara lain lewat proses orientasi kerja. Pada tahap ini para karyawan berada dalam tahap “perjuangan” untuk menentukan keputusan apakah sudah siap menjadi anggota sistem sosial perusahaan, ragu-ragu ataukah mengundurkan diri.
    Ketika karyawan sudah memutuskan untuk terus bekrja, namun prsoes perubahan relatif masih membutuhkan waktu yang lama, maka tiap karyawan perlu difalisitasi dengan pelatihan dan pengembangan diri secara terencana.
    Dalam hal ini, karyawan harus membuktikan kemampuan diri dalam penguasaan ketrampilan kerja yang disesuaikan dengan peran dan nilai serta norma yang berlaku dalam kelompok kerjanya sampai mencapai tahap metamorfosis.
    Secara keseluruhan keberhasilan proses sosialisasi akan sampai pada tahap internalisasi yang diukur dari (1) Produktivitas Kerja, (2) Komitmen pada tujuan organisasi, dan (3)  Kbesamaan dalam organisasi
    Jadi budaya kerja yang dibentuk dari budaya organisasi akan berdampak pada kinerja dan produktivitas. Hal ini tercermin dari sikap karyawan dalam memandang pekerjaannya, sikap dalam bekerja, etos kerja, dan pemanfaatan waktu dalam bekerja.
    Agar dapat terlaksana dengan baik, harus ada langkah-langkah yang harus diambil dari pihak manajemen dan proses sosialisasi, sehingga budaya kerja yang ada dapat terinternalisasi dalam setiap kegiatan pekerjaan sehari-hari.
    
2.       Faktor – faktor yang mempengaruhi Budaya Kerja
    Menurut pendapat para ahli, faktor-faktor yang dapat mempengaruhi budaya kerja adalah sebagai berikut :
1.      Perilaku pemimpin
Tindakan nyata dari seorang pemimpin biasanya akan menjadi cermin penting bagi para pegawai.
2.      Seleksi para pekerja
Dengan menempatkan pegawai yang tepat dalam kedudukan yang tepat, akan menumbuhkembangkan rasa memiliki dari para pegawai.
3.      Budaya Organisasi
Setiap organisasi memiliki budaya kerja yang dibangun sejak lama.
4.      Budaya Luar
Didalam suatu organisasi, budaya dapat dikatakan lebih dipengaruhi oleh komunitas budaya luar yang mengelilinginya.
5.      Menyusun misi perusahaan dengan jelas
Dengan memahami misi organisasi secara jelas maka akan diketahui secara utuh dan jelas sesuatu pekejaan yang seharusnya dilakukan oleh para pegawai.
6.      Mengedepankan misi perusahaan
Jika tujuan suatu organisasi sudah ditetapkan, setiap pemimpin harus dapat memastikan bahwa misi tersebut harus berjalan.
7.      Keteladanan pemimpin
Pemimpin harus dapat memberi contoh budaya semangat kerja kepada para bawahannya
8.      Proses pembelajaran.
Pembelajaran pegawai harus tetap berlanjut. Untuk menghasilkan budaya kerja yang sesuai, para pegawai membutuhkan pengembangan keahlian dan pengetahuan.
9.      Motivasi
Pekerja membutuhkan dorongan untuk turut memecahkan masalah organisasi lebih inovatif.
    Dengan demikian pemimpin dapat mengembangkan budaya kerja yang adil melalui peningkatan daya pikir pegawai dalam memecahkan masalah ayng ada secara efektif dan efisien.
    Selanjutnya yang dimaksud budaya kerja dalam penelitian ini adalah kondisi dan iklim kerja yang diciptakan oleh pimpinan dan diberlakukan dalam organisasi untuk dijadikan pedoman sikap dan perilaku pegawai dalam melaksanakan tugas.
    Jadi dalam rangka mengaktualisasikan budaya kerja sebagai ukuran sistem nilai dalam bekrja yang pertama kali harus diupayakan adalah penanaman dalam sikap mental karyawan yang meliputi pemahaman dan pelaksanaan dalam sikap dan pelaksanaan pekerjaannya sehari-hari.
    Selain itu perilaku pemimpin merupakan faktor yang mempengaruhi pelaksanaan budaya kerja dalam suatu organisasi. Dalam hal ini diperlukan keteladanan sikap untuk dapat dijadikan contoh dan panutan oleh semua karyawan, juga kebijakan dalam menentukan arah, tujuan serta visi dan misi suatu organisasi yang akan juga dijadikan landasan dalam pelaksanaan budaya kerja.

A.3 MEMBANGUN DEDIKASI DALAM BUDAYA KERJA

Salah satu problem negara-negara berkembang adalah masyarakatnya yang masih dalam posisi transisi menuju kemajuan. Di dalam masa transisi biasanya terdapat tarik menarik yang luar biasa antara keinginan untuk maju di satu sisi dan keinginan agar tetap mempertahankan atribusi yang selama ini telah mendarah daging. Biasanya yang menuntut perubahan menuju kepada kemajuan adalah segolongan kecil yang telah memiliki kesadaran untuk berubah. Sedangkan sebagian besar lainnya yang kebanyakan adalah masyarakat bawah memang belum memiliki kemampuan untuk berpikir perubahan. Kebanyakan mereka masih berpikir tentang kebutuhan ekonomi yang masih mendera kehidupannya.
Seperti diketahui bahwa budaya kerja memang banyak kaitannya dengan kelas menengah ke atas. Artinya bahwa yang bersentuhan langsung dengan aspek pelayanan kepada masyarakat kebanyakan adalah kaum terdidik yang memasuki sektor publik. Misalnya  aparatur negara, pagawai swasta, pengusaha, dan sebagainya. Konsep budaya kerja sesungguhnya lebih banyak terkait dengan aspek pelayanan publik dalam suatu pekerjaan. Aparatur negara, misalnya adalah orang yang menjadi pelayan masyarakat dalam rangka melayani kepentingan masyarakat. Sebagai aparatur negara maka tugas pokok dan fungsinya (tupoksi) adalah memberikan pelayanan prima untuk melayani kepentingan publik.
Makanya, dalam banyak hal yang dituntut untuk memiliki budaya kerja adalah para aparat negara. Hal ini tentu terkait dengan tupoksinya yang berkisar pada pelayanan publik dan kepuasan pelanggan. Bagi sektor swasta,  memang telah dibangun mekanisme kerja yang berbasis efektivitas dan efisiensi. Kebanyakan pekerja swasta dituntut untuk bekerja sesuai dengan standart pekerjaan yang ditanganinya.
Di dalam kerangka untuk memberikan pelayanan yang baik kepada user atau pelanggan maka dipersyaratkan beberapa hal yang bisa menjadi basis bagi penciptaan budaya kerja yang tinggi.
Syarat-syarat tersebut antara lain adalah:

  •  Kreativitas dan kepekaan, yaitu mengembangkan pekerjaan secara dinamis yang dapat  mendorong ke arah efisiensi dan efektivitas. Seorang aparat di manapun ia bekerja selayaknya jika mengembangkan sikap dan tindakan efektif dan effisien. Pekerjaan dapat dilaksanakan secara efektif dan efisien jika didasari oleh adanya kemampuan bekerja secara kreatifitas dan kepekaan yang tinggi. Tanpa kreatifitas dan kepekaan sulit rasanya seseorang akan dapat menciptakan peluang bekerja dengan efektif dan efisien.
  • Disiplin dan keteraturan kerja, yaitu bekerja yang mengacu kepada standar operasional prosedur (SOP). Setiap instansi yang bergerak di bidang pelayanan pastilah memiliki SOP. Melalui prosedur kerja yang telah distandardisasi maka akan terdapat ukuran-ukuran yang pasti dan jelas. Jika seseorang menyalahi SOP-nya maka akan diketahui dan kemudian akan dapat merusak citra intsitusi tersebut di mata para pelanggannya. SOP dibuat agar para pelanggan akan memperoleh rasa kepuasan dalam pelayanan.
  • Keberanian dan kearifan, yaitu produk yang dihasilkan melalui pendelegasian wewenang yang berbasis pada Standart Pelayanan Minimum (SPM) dan Standart Operasional Prosedur (SOP). Seseorang akan memiliki keberanian untuk melakukan sesuatu jika aturan yang menjadi landasan pekerjaannya sangat jelas. Dan landasan kerja tersebut adalah SPM dan SOP. Keberanian saja tentu tidak cukup tanpa didasari oleh semangat kearifan yaitu melaksanakan sesuatu berdasar atas dorongan kemanusiaan dan lingkungan.
  • Dedikasi dan loyalitas, yaitu melakukan pekerjaan yang diarahkan terhadap tugas yang bersumber pada visi,misi dan tujuan organisasi. Dedikasi dan loyalitas tidak diberikan secara personal akan tetapi kepada lembaga. Jadi bukan loyal kepada pimpinannya, atau atasannya tetapi kepada visi dan misi lembaga atau institusinya. Jika loyalitas sudah diberikan kepada lembaga, maka yang penting adalah lembaga bukan siapa yang ada dibalik lembaga. Sayangnya bahwa masih banyak loyalitas dan dedikasi yang diberikan kepada individu bukan kepada lembaga. 
  • Semangat dan motivasi, yaitu bekerja yang  didorong oleh keinginan memperbaiki keadaan secara perorangan maupun organisasional. Perubahan adalah kata kunci untuk mengembangkan institusi. Namun demikian bukan hanya perubahan saja yang dituntut akan tetapi adalah perubahan yang didasari oleh semangat dan motivasi untuk berkembang dan maju. Bekerja harus didasari oleh semangat dan motivasi yang bersumber dari niat yang baik dan kuat. Niatlah yang akan menentukan sesuatu bisa dilaksanakan dan dicapai atau tidak. Makanya niat menjadi aspek utama dalam pengembangan menuju kemajuan.

Di atas itu semua, maka bekerja juga harus didasari oleh ketekunan dan kesabaran serta adil dan terbuka. Jika ini semua bisa dilaksanakan bukan tidakmungkin bahwa kita akan menjadi bangsa yang maju dengan pelayanan publik yang prima.

A.4 Cara membangun etika yang baik di tempat kerja

Mendatangi meja atau ruangan kerja teman untuk berdiskusi atau sekadar berbincang-bincang adalah salah satu etika yang baik dilakukan dalam lingkungan kantor. Bersosialisasi dengan kolega di kantor dapat menumbuhkan rasa keakraban dan kedekatan satu sama lain.Meski merasa akrab, tidak semua hal dapat Anda ceritakan kepada teman-teman di tempat kerja. Memberikan informasi yang berlebihan tentang diri Anda dapat menyebabkan gosip, salah-salah akan membahayakan karir Anda jika hal itu sampai terdengar atasan.Terlalu dekat dengan rekan kerja atau bahkan atasan tidak cukup baik untuk dilakukan. Lantas, apa yang sebaiknya dilakukan? Berikut cara membangun etika yang baik di tempat kerja seperti yang dikutip dari iDiva.1. Berkomunikasi dengan KolegaSaat ini, sudah banyak sekali perusahaan atau individu yang berinvestasi di suatu perusahaan tertentu. Hal tersebut sangat memungkinkan Anda untuk bertemu dengan banyak kolega setiap harinya.Salah satu cara membangun etika yang baik adalah dengan berkomunikasi dengan kolega. Bukalah percakapan dengan sapaan yang ramah dan berbicaralah dengan tema yang umum. Jika ia melakukan sesuatu yang luar biasa, Anda dapat memberinya pujian sesekali dan jangan berlebihan.Hindari percakapan yang menyinggung perasaan, melecehkan dan menggoda rekan kerja lainnya. Hal tersebut bukan saja akan dapat menghambat budaya kerja dan menciptakan ketegangan, tetapi juga permusuhan di dalam kantor.2. Pakaian Mencerminkan KepribadianKepribadian, merupakan kesan yang ditimbulkan, dan sikap tercermin dari pakaian yang Anda kenakan saat pergi ke kantor. Wanita yang mengenakan pakaian terbuka tentu saja akan mengundang perhatian dan mendapat komentar yang tidak perlu. Sementara, pakaian dan sepatu yang sesuai dengan lingkungan kerja akan membuat Anda terlihat elegan dan dihormati.
Maka, pastikan Anda bersikap sebagaimana ingin dihormati di tempat kerja. Berjalan dengan tegap dan percaya diri adalah hal yang harus Anda lakukan. Ingat, berhati-hatilah dengan penampilan.3. Menjaga SikapPastikan Anda tidak sedang sakit pada setiap acara kantor atau ketika berada di tempat kerja. Hal-hal sederhana seperti menghadiri pertemuan, mematikan atau membuat nada silent saat bekerja, mengatur nada dering dengan volume yang cukup adalah etika yang baik saat di kantor.Hal-hal lain seperti berkonsentrasi pada pekerjaan Anda sendiri, tidak mengintip ke layar komputer rekan kerja, merupakan sikap umum yang juga dapat dipraktekan. Anda tidak perlu menjelaskan panjang lebar tentang siapa Anda, jika ada hal-hal yang harus diketahui rekan kerja Anda, sampaikanlah dengan jelas dan tanpa bertele-tele. Berusahalah bersikap diplomatis.Terakhir namun tidak kalah penting, jangan biarkan sesuatu atau seseorang menghambat kinerja Anda. Kinerja yang dibentuk dari sopan santun dan perilaku yang baik akan memberikan nilai positif bagi Anda.Hal-hal yang Perlu Anda Ingat:
Aturlah nada suara Anda ketika sedang berbicara dengan kolega. Ketika Anda ingin menyampaikan saran atau menanyakan sesuatu, pastikan Anda mengatur volume suara agar tidak mengganggu rekan kerja lainnya.

Hormati privasi kolega. Sangat tidak etis untuk mengintip email rekan kerja Anda. Aturan yang sama juga berlaku pada ponsel yang berdering. Anda tidak perlu tahu siapa yang menelepon kolega Anda.

Ketika bergabung dengan rekan kerja untuk makan siang, ingatlah untuk meletakkan segala sesuatu kembali di tempatnya masing-masing. Tariklah kursi tanpa mengeluarkan suara. Selain itu, pastikan Anda berdiri ketika kolega datang, dan duduk kembali ketika mereka telah duduk di kursinya masing-masing.

Jika meminjam alat tulis, atau barang kantor dari seorang rekan, pastikan Anda mengembalikannya setelah selesai digunakan. Termasuk ketika meminjam uang. tidak semua orang suka untuk menagih, maka bayarlah hutang Anda secepatnya.

Pastikan Anda menghormati pekerjaan rekan kerja Anda. Jika tidak melakukan pekerjaan tertentu, pastikan tidak mengambil alih pekerjaannya, dan sebaliknya.
Membangun adalah setiap kegiatan mendirikan, membongkar, memperbaharui, merubah, mengganti seluruh atau sebagian, memperluas bangunan atau bangun bangunan.

A.5 Terbentuknya Budaya Kerja

Budaya kerja berbeda antara organisasi satu dengan yang lainnya, hal itu dikarenakan landasan dan sikap perilaku yang dicerminkan oleh setiap orang dalam organisasi berbeda. Budaya kerja yang terbentuk secara positif akan bermanfaat karena setiap anggota dalam suatu organisasi membutuhkan sumbang saran, pendapat bahkan kritik yang bersifat membangun dari ruang lingkup pekerjaaannya demi kemajuan di lembaga pendidikan tersebut, namun budaya kerja akan berakibat buruk jika pegawai dalam suatu organisasi mengeluarkan pendapat yang berbeda hal itu dikarenakan adanya perbedaan setiap individu dalam mengeluarkan pendapat, tenaga dan pikirannya, karena setiap individu mempunyai kemampuan dan keahliannya sesuai bidangnya masing-masing.
Untuk memperbaiki budaya kerja yang baik membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk merubahnya, maka itu perlu adanya pembenahan-pembenahan yang dimulai dari sikap dan tingkah laku pemimpinnya kemudian diikuti para bawahannya, terbentuknya budaya kerja diawali tingkat kesadaran pemimpin atau pejabat yang ditunjuk dimana besarnya hubungan antara pemimpin dengan bawahannya sehingga akan menentukan suatu cara tersendiri apa yang dijalankan dalam perangkat satuan kerja atau organisasi.
Maka dalam hal ini budaya kerja terbentuk dalam satuan kerja atau organisasi itu berdiri, artinya pembentukan budaya kerja terjadi ketika lingkungan kerja atau organisasi belajar dalam menghadapi permasalahan, baik yang menyangkut masalah organisasi.
Sumber : Robert Kreitner & Angelo Kinicki, Perilaku Organisasi, 2003: 127
Cakupan makna setiap nilai budaya kerja tersebut, antara lain:
Disiplin; Perilaku yang senantiasa berpijak pada peraturan dan norma yang berlaku di dalam maupun di luar perusahaan. Disiplin meliputi ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan, prosedur, berlalu lintas, waktu kerja, berinteraksi dengan mitra, dan sebagainya.
Keterbukaan; Kesiapan untuk memberi dan menerima informasi yang benar dari dan kepada sesama mitra kerja untuk kepentingan perusahaan.
Saling menghargai; Perilaku yang menunjukkan penghargaan terhadap individu, tugas dan tanggung jawab orang lain sesama mitra kerja.
Kerjasama; Kesediaan untuk memberi dan menerima kontribusi dari dan atau kepada mitra kerja dalam mencapai sasaran dan target perusahaan.[8]
Kesuksesan organisasi bermula dari adanya disiplin menerapkan nilai-nilai inti perusahaan. Konsistensi dalam menerapkan kedisiplinan dalam setiap tindakan, penegakan aturan dan kebijakan akan mendorong munculnya kondisi keterbukaan, yaitu keadaan yang selalu jauh dari prasangka negatif karena segala sesuatu disampaikan melalui fakta dan data yang akurat (informasi yang benar). Selanjutnya, situasi yang penuh dengan keterbukaan akan meningkatkan komunikasi horizontal dan vertikal, membina hubungan personal baik formal maupun informal diantara jajaran manajemen, sehingga tumbuh sikap saling menghargai.
Pada gilirannya setelah interaksi lintas sektoral dan antar karyawan semakin baik akan menyuburkan semangat kerjasama dalam wujud saling koordinasi manajemen atau karyawan lintas sektoral, menjaga kekompakkan manajemen, mendukung dan mengamankan setiap keputusan manajemen, serta saling mengisi dan melengkapi. Hal inilah yang menjadi tujuan bersama dalam rangka membentuk budaya kerja.
Pada prinsipnya fungsi budaya kerja bertujuan untuk membangun keyakinan sumberdaya manusia atau menanamkan nilai-nilai tertentu yang melandasi atau mempengaruhi sikap dan perilaku yang konsisten serta komitmen membiasakan suatu cara kerja di lingkungan masing-masing. Dengan adanya suatu keyakinan dan komitmen kuat merefleksikan nilai-nilai tertentu, misalnya membiasakan kerja berkualitas, sesuai standar, atau sesuai ekpektasi pelanggan (organisasi), efektif atau produktif dan efisien.
Tujuan fundamental budaya kerja adalah untuk membangun sumber daya manusia seutuhnya agar setiap orang sadar bahwa mereka berada dalam suatu hubungan sifat peran pelanggan, pemasok dalam komunikasi dengan orang lain secara efektif dan efisien serta menggembirakan. Budaya kerja berupaya mengubah komunikasi tradisional menjadi perilaku manajemen modern, sehingga tertanam kepercayaan dan semangat kerjasama yang tinggi serta disiplin.
Dengan membiasakan kerja berkualitas, seperti berupaya melakukan cara kerja tertentu, sehingga hasilnya sesuai dengan standar atau kualifikasi yang ditentukan organiasi. Jika hal ini dapat terlaksana dengan baik atau membudaya dalam diri pegawai, sehingga pegawai tersebut menjadi tenaga yang bernilai ekonomis, atau memberikan nilai tambah bagi orang lain dan organisasi. Selain itu, jika pekerjaan yang dilakukan pegawai dapat dilakukan dengan benar sesuai prosedur atau ketentuan yang berlaku, berarti pegawai dapat bekerja efektif dan efisien.
Melaksanakan budaya kerja mempunyai arti yang sangat mendalam, karena akan merubah sikap dan perilaku sumber daya manusia untuk mencapai produktivitas kerja yang lebih tinggi dalam menghadapi tantangan masa depan. Disamping itu masih banyak lagi manfaat yang muncul seperti kepuasan kerja meningkat, pergaulan yang lebih akrab, disiplin meningkat, pengawasan fungsional berkurang, pemborosan berkurang, tingkat absensi menurun, terus ingin belajar, ingin memberikan terbaik bagi organisasi, dan lain-lain.
Berdasarkan pandangan mengenai manfaat budaya kerja, dapat ditarik suatu deskripsi sebenarnya bahwa manfaat budaya kerja adalah untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kualitas hasil kerja, kuantitas hasil kerja sehingga sesuai yang diharapkan.

A.6 Unsur– Unsur Budaya Kerja

Budaya kerja adalah berpijak dari nilai-nilai yang dimiliki oleh bangsa atau masyarakat Indonesia yang diolah sedemikian rupa menjadi nilai-nilai baru yang akan menjadi sikap dan perilaku manajemen yang diharapkan dalam upaya menghadapi tantangan baru. Budaya kerja tidak akan muncul begitu saja, akan tetapi harus diupayakan dengan sungguh-sungguh melalui proses yang terkendali dengan melibatkan semua sumber daya manusia dalam seperangkat sistem, alat-alat dan teknik-teknik pendukung.
Budaya kerja akan menjadi kenyataan melalui proses panjang, karena perubahan nilai-nilai lama menjadi nilai-nilai baru akan memakan waktu untuk menjadi kebiasaan dan tak henti-hentinya terus melakukan penyempurnaan dan perbaikan.
Menurut Taliziduhu Ndraha, budaya kerja dapat dibagi menjadi dua unsur, yaitu:
1)      Sikap terhadap pekerjaan, yakni kesukaan akan kerja dibandingkan dengan kegiatan lain, seperti bersantai, atau semata-mata memperoleh kepuasan dari kesibukan pekerjaannya sendiri, atau merasa terpaksa melakukan sesuatu hanya untuk kelangsungan hidupnya.
2)      Perilaku pada waktu bekerja, seperti rajin, berdedikasi, bertanggung jawab, berhati-hati, teliti, cermat, kemauan yang kuat untuk mempelajari tugas dan kewajibannya, suka membantu sesma pegawai, atau sebaliknya.
Budaya kerja merupakan suatu organisasi komitmen yang luas dalam upaya untuk membangun sumber daya mnusia, proses kerja dan hasil kerja yang lebih baik. Untuk mencapai tingkat kualitas yang makin baik tersebut diharapkan bersumber dari perilaku setiap individu yang terkait dalam organisasi kerja itu sendiri. Setiap fungsi atau proses kerja mempunyayi perbedaan cara kerja, yang mengakibatkan berbeda nilai-nilai yang cocok untuk diambil dalam kerangka kerja organisasi. Setiap nilai-nilai apa yang sepatutnya dimiliki oleh pemimpin puncak dan pemimpin lainnya, bagaimana perilaku setiap orang akan mempengaruhi kerja mereka.

Adapun indikator-indikator budaya kerja menurut Taliziduhu Ndraha  dapat dikategorikan tiga Yaitu :
1)  Kebiasaan
Kebiasaan-kebiasaan biasanya dapat dilihat dari cara pembentukan perilaku berorganisasi pegawai, yaitu perilaku berdasarkan kesadaran akan hak dan kewajiban, kebebasan atau kewenangan dan tanggungjawab baik pribadi maupun kelompok di dalam ruang lingkup lingkungan pekerjaan. Adapun istilah lain yang dapat dianggap lebih kuat ketimbang sikap, yaitu pendirian (position), jika sikap bisa berubah pendiriannya diharapkan tidak berdasarkan keteguhan atau kekuatannya. Maka dapat diartikan bahwa sikap merupakan cermin pola tingkah laku atau sikap yang sering dilakukan baik dalam keadaan sadar ataupun dalam keadaan tidak disadar, kebiasaan biasanya sulit diperbaiki secara cepat dikarenakan sifat yang dibawa dari lahiriyah, namun dapat diatasi dengan adanya aturan-aturan yang tegas baik dari organisasi ataupun perusahaan.
2)  Peraturan
Untuk memberikan ketertiban dan kenyamanan dalam melaksanakan tugas pekerjaan pegawai, maka dibutuhkan adanya peraturan karena peraturan merupakan bentuk ketegasan dan bagian terpenting untuk mewujudkan pegawai disiplin dalam mematuhi segala bentuk peraturan-peraturan yang berlaku di lembaga pendidikan. Sehingga diharapkan pegawai memiliki tingkat kesadaran yang tinggi sesuai dengan konsekwensi terhadap peraturan yang berlaku baik dalam organisasi perusahaan maupun di lembaga pendidikan.
3)  Nilai-nilai
Nilai merupakan penghayatan seseorang mengenai apa yang lebih penting atau kurang penting, apa yang lebih baik atau kurang baik, dan apa yang lebih benar atau kurang benar. Untuk dapat berperan nilai harus menampakkan diri melalui media atau encoder tertentu. Nilai bersifat abstrak, hanya dapat diamati atau dirasakan jika terekam atau termuat pada suatu wahana atau budaya kerja. Jadi nilai dan budaya kerja tidak dapat dipisahkan dan keduanya harus ada keselarasan dengan budaya kerja searah, keserasian dan keseimbangan.

BAB III. PENUTUP

KESIMPULAN

Budaya perusahaan tidak muncul dengan sendirinya di kalangan anggota organisasi, tetapi perlu dibentuk dan dipelajari karena pada dasarnya budaya perusahaan adalah sekumpulan nilai dan pola perilaku yang dipelajari, dimiliki bersama, oleh semua anggota organisasi dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

SARAN

Budaya perusahaan sangat penting peranannya dalam mendukungterciptanya suatu organisasi atau perusahaan yang efektif. Secara lebih spesifik, budaya perusahaan dapat berperan dalam menciptakan jati diri, mengembangkan keikutsertaan pribadi dengan perusahaan dan menyajikan pedoman perilaku kerja bagi karyawan.







Daftar Pustaka

http://www.organisasi.org/1970/01/arti-definisi-pengertian-budaya-kerja-dan-tujuan-manfaat-penerapannya-pada-lingkungan-sekitar.html
http://panjisatria15.wordpress.com/2012/11/08/pengertian-budaya-kerja/
http://dedylondong.blogspot.com/2011/10/budaya-kerja.html
http://nursyam.sunan-ampel.ac.id/?p=300
http://wolipop.detik.com/read/2012/11/21/180037/2097392/1133/2/cara-membangun-etika-yang-baik-di-tempat-kerja
http://arozieleroy.wordpress.com/2010/07/13/budaya-kerja/



Inilah sedikit materi tentang budaya kerja yang biasa kita jalani dan seharusnya hendak di realisaikan dalam etos kerja sehingga dapat maksimal sesuai dengan apa tujuan kerja di bidang kita masing masing.
Semoga bermanfaat...

Sunday, June 29, 2014

Makalah materi masa keemasan islam

“Peradaban Islam’ bukanlah terjadi pada masa kejayaan kekaisan Ottoman Turki, sebab itu adalah peradaban Turki. Justru “Peradaban Islam” sebenarnya adalah masa keemasan Islam jauh sebelum kekaisaran Ottoman muncul di panggung dunia. Mari kita lihat masa-masa keemasan Islam itu.
Peradaban-peradaban besar di masa lampau mewariskan bukti atas prestasi-prestasi mereka. Peradaban Roma, Yunani, Maya dan China. Peradaban Mesir melahirkan Pyramid yang sekarang dikagumi dunia, China dengan tembok chinanya, dan lainnya. Lantas bagaimana dengan “Peradaban Islam”. Contoh sisa2 peradaban Islam adalah Mesjid Ummayah di Damascus? Ini adalah bekas Gereja Kristen yang berhasil diambil alih umat Islam dan berhasil diubah menjadi mesjid. Tanpa peradaban yang tinggi, tentu pengambil alihan ini tidak akan terjadi.
Peradaban-peradaban  Islam memiliki prestasi-prestasi besar yang jelas asal-usulnya. Peradaban Islam dimulai dengan wilayah Mekkah dan Medinah. Di sana kita bisa lihat sisa-sisa peradaban Islam yang berupa Kabah yang berwujud kotak kubus berwarna hitam, dan batu hitam yang sampai saat ini masih dapat kita saksikan dan cium ketika kita melakukan kewajiban berhaji. Dan peradaban Islam ini kini semakin besar dengan dilakukannya renovasi besar2an di sekitar lingkungan Kabah yang menjadi kiblat kaum muslim untuk beribadah. Peradaban Islam memungkinkan dibangunnya hotel2 besar di sekitar Kabah lengkap dengan segala fasilitas modernnya. Sekali lagi, peradaban Islam terbukti memberi banyak manfaat bagi dunia.
Contoh peradaban masa keemasan Islam adalah juga dapat kita saksikan di masa penjajahan di Spanyol misalnya. Umat Islam berhasil mengambil alih bangunan-bangunan milik orang Spanyol yang kafir. Coba saja kalau peradaban Islam tidak berhasil masuk Spanyol pada masa itu, tentu Spanyol tidak akan semaju seperti sekarang ini.
Peradaban Islam terus berkembang dengan begitu sehat dan umatnya semakin memiliki kemampuan berpikir secara kritis. Akhirnya peradaban Islam berhasil menemukan konsep “Nol” yang tanpanya tidak mungkin ada komputer. Konsep ‘nol’ bukanlah berasal dari India seperti yang didengung2kan selama ini, melainkan oleh Islam semasa pendudukan Islam di daratan India. Kalau saja umat Islam membunuh para orang India yang menemukan angka “Nol” ini, tentu angka “Nol” tidak akan pernah ada, jadi wajarlah kalau Islam dapat disebut sebagai punya andil besar dalam penemuan angka “Nol”. Demikian juga angka2 ‘Arab’ lainnya yang diperoleh ketika Islam menguasai daerah2 kafir di Babylonia.
Islam menerjemahkan karya-karya filsuf Yunani: Socrates, Aristotle, dll., dan tanpa terjemahan yang dilakukan oleh umat Islam maka peradaban Eropa akan lenyap dan Eropah tidak akan semaju seperti sekarang ini. Jadi wajar orang Eropah harus berterima kasih kepada peradaban Islam. Terjemahan-terjemahan tersebut dibuat di negara-negara pendudukan Islam seperti Iraq dan Levant. Walau terjemahan2 tersebut tidak dilakukan langsung oleh umat Islam, tetapi karena dilakukannya di negara2 yang mayoritas Islam maka umat Islam juga harus disebut sebagai punya andil besar bagi dibuatnya terjemahan2 tersebut. Seperti kita tahu bahwa terjemahan2 tersebut dilakukan melalui tangan2 orang Kristen Assyria yang hidup dibawah perlindungan Islam. Coba kalau umat Islam tidak melindungi orang2 Kristen Assyria ini, tentu terjemahan2 tersebut tidak akan pernah ada dan Eropah tidak akan semaju seperti sekarang ini.
Peradaban Islam adalah peradaban di mana kita memasukkan budaya Arab di dalam kehidupan sehari2 kita. Kebudayaa2 penduduk Asli bukanlah budaya Islam jadi harus dibuang. Untung saja dulu peradaban islam belum mengenal yang namanya bom, kalau sudah mengenal pasti Piramid Giza di Mesir tidak ada lagi karena pyramid bukanlah budaya Islam melainkan kafir laknatullah.  Tentu hal ini tidak berlaku pada patung Bamiyan Buddha raksasa di Afghanistan yang berusia 2500 tahun. Sewaktu peradaban Islam telah belajar menggunakan bahan peledak, kita bisa dengan gampang menghancurkannya sambil memuji kebesaran Allah SWT. Peradaban lain hanya bisa menyaksikan penghancuran itu dengan mulut ternganga, karena peradaban2 lain ini begitu tololnya, karena mengagumi benda mati seperti patung Buddha. Ribuan kuil-kuil Hindu kita berhasil rubah menjadi mesjid-mesjid, dan masih bisa kita saksikan sampai saat ini. Inilah bukti2 masa peradaban Islam

Saturday, June 21, 2014

makalah kurikulum

BAB I
HAKIKAT KURIKULUM

  1. Pengertian kurikulum
Kurikulum dapat diartikan sebagai sebuah dokumen perencanaan yang berisi tentang tujuan yang harus dicapai, isi materi dan pengalaman belajar yang harus dilakukan siswa, strategi dan cara yang dapat dikembangkan, evaluasi yang dirancang untuk mengumpulkan informasi tentang pencapaian tujuan, serta implementasi dari dokumen yang dirancang dalam bentuk myata. Dengan demikian, pengembangan kurikulum meliputi penyusunan dokumen, implementasi dokumen serta evaluai dokumen yang telah disusun.

  1. Peran dan Fungsi Kurikulum
Sebagai salah satu komponen suatu sistem pendidikan, paling tidak kurikulum mempunyai peran, yaitu :
-                      peran konservatif yaitu melestrikan berbagai nilai budaya senagai warisan masa lalu
-                      peran kreatif yaitu mengembangkan setiap potensi yang dimiliki siswa
-                      peran kritis dan evaluatif yaitu menyeleksi dan mengevaluasi segala sesuatu yang di anggap bermanfaat untuk kehidupan anak didik
Di lihat dari cakupan tujuannya menurut McNeil (1990), yaitu :
-                      fungsi pendidikan umum
-                      suplementasi
-                      eksplorasi
-                      keahlian
maka jelaslah kurikulum berfungsi untuk setiaporang atau lembaga yang berhubungan baik langsung maupun tidak langsung.
Berkaitan dengan kurikulum, Alexander Inglis (1990)  mengemukakan enam fungsi kurikulum untuk siswa:
-                      fungsi penyesuaian
-                      fungsi integrasi
-                      fungsi difersiasi
-                      fungsi persiapan
-                      fungsi pemilihan
-                      fungsi diasnogtik

  1. Kurikulum dan Pengajaran
Saylor, oliva mengatakan bahwa kurikulun dan pengajaran memiliki keterkaitan yang sangat erat. Dan digambarkan denagn model sebagai berikut:
-                      model dualistik
-                      model berkaitan
-                      model konsentris
-                      model siklus

  1. Kurikulum ideal dan kurikulum aktual
Kurikulum ideal adalah kurikulum yang diharapkan dapat dilaksanakan dan berfungsi sebagai acuan atau pedoman guru dalam proses belajar dan mengajar. Kuurikulum aktual adalah kurikulum yang secara riil dapat dilaksnakan oleh guru sesuai dengan keadaan dan kondisi yang ada.

  1. Kurikulum tersembunyi
Ialah hasil dari suatu proses pendidikan yang tidak direncanakan.


  1. peran guru dan pengembangan kurikulum
Muray Printr (1993) mencatat peran guru dala levvel ini adalah implementers, adapters, develover, dan researchers.
BAB II
LANDASAN PENGEMBANGAN KURIKULUM
  1. Hakikat pengembangan kurikulum
Pengembangan kurikulum adalah proses atau kegiatan yang sengaja dan dipikirkan untuk menghasilkan sebuah kurikulum sebagai pedoman dalam proses dan penyelenggaraan pembelajaran oleh guru di Sekolah. Seller dan Miller (1985) mengatakan dahwa proses pengembangan kurikulum adalah rangkaian kegiatan yang dilakukuan secara terus-menerus. Ada dua hal yang harus dipertimbangkan dalam penentuan isi pengembangan kuriulum, yaitu rentangan kegiatan dan tujuan kelembagaan yang berhubungan dngan visi dan misi sekolah.

  1. Prinsip-prinsip pengembangan kurikulum
Prinsip-prinsipnya yaitu :
-                      prinsip relevansi
-                      prinsip fleksibilitas
-                      prinsip kontinuitas
-                      efektifitas
-                      efisiensi

  1. Landasan pengembangan kurikulum
-                      landasan filosofis dalam pengembangan kurikulum
ada empat fungsi filsasat dalam proses pengembangan kurikulum, yaitu:
  1. dapat menentukan arah dan tujuan pendidikan
  2. dapat menentukan isi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai
  3. dapat nementukan cara pencapaian tujuan
  4. dapat menentukan tolak ukur keberhasilah proses pendidikan
-                      landasan psikologis dalam pengembangan kurikulum
  1. psikologi perkembangan anak
tahapan-tahapan perkembangan kognitif anak ada 4 fase, yaitu :
a. sensorimotor
b. praopersional
c. operasional konkret
d. operasional formal
-                      landasan sosiologis-teknologis dalam pengembangan
  1. kekuatan sosial yang dapat mempengaruhi kurikulum
  2. kemajuan IPTEK sebagai bahan pertimbangan penyusunan kurikulum
BAB III
DESAIN KURIKULUM

Mendesain kurikulum berarti menyusun rancangan atau menyusun model kurikulum sesuai visi dan misi sekolah
A. Desain kurikulum disiplin ilmu
Terdapat tiga bentuk organisasi kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu, yaitu:
-                      subjec centered curriculum
-                      correlated curriculum
-                      integrated curriculum

B. Desain kurikulum berorientasi pada masyarakat
Ada tiga perspektif desain kurikullum yang berorientasu pada kehidupan masyarakat, yaitu:
-                      perspektif status quo
-                      perspektif pembaharuan
-                      perspektif masa depan

C. Desain kurikulum berorientasi pada siswa
Desain kurikulum yang berorientasi pada anak didik, dapat dilihat minimal dari dua perspektif, yaitu:
-                      perspektif kehidupan anak di masyarakat
-                       perspektif psikologi.

  1. Desain kurikulum teknologis
Model desain teknologi dikhususkan kepada efektivitas program,metode, dan bahan-bahan yang diaggap dapat mencapai tujuan. Teknologi mempengaruhi kurikulum dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:
-                      sisi penerapan hasil-hasil teknologi
-                      penerapan teknologi sebagai suatu sistem
Organisasi bahan pelajaran dalam kurikulum teknologis memiliki ciri-ciri:
-                      pengorganisasian materi kurikulum berpatokan pada rumusan tujuan
-                      materi kurikulum disusun secara berjenjang
-                      materi kurikulum disusun dari mulai yang sederhana menuju yang kompleks
Efektifitas dan keberhasilan implementasi kurikulum teknologi hendaklah memperhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
-                      kesadaran akan tujuan
-                      mempraktikan kecakapan sesuai dengan tujuan
-                      siswa perlu diberi tahu hasil yang dicapai
BAB IV
PENDEKATAN DAN MODEL PENGEMBANGAN KURIKULUM 
  1. Pendekatan pengembangan kurikulum
Ada dua pendekatan yang dapat diterapkan dalam pengembangan kurikulum. Yaitu:
-                      pendekatan topdown ialah pengembangan kurikulum muncul atas inisiatif para administrator pendidikan
-                      pendekatan grass roots ialahpengembangan kurikulum dimulai dari lapangan atau implementator, kemudian menyebar pada lingungan yang lebih luas

  1. Model-model pengembangan kurikulum
Menurut Good(1972) dan Traves(1973) model adalah abstraksi dunia nyata atau representasi peristiwa komplek atau sistem dalam bentuk naratif, matematis, grafis,dan lainnya.
Manfaat-manfaat model,yaitu:
-                      menjelaskan aspek perilaku dan interaksi manusia
-                      mengintegrasikan seluruh pengetahuan hasil penelitian
-                      menyederhanakan suatu proses yang bersifat kompleks
-                      pedoman untuk melakukan kegiatan
1. Model tyler
Model pengembangan tyler bersifat bagaimana merancang suatu kurikulum sesuai dengan tujuan dan misi suatu instuisi pendidikan. Menurut Tyler ada 4 halyang fundamental untuk mengembangkan kurikulum, yaitu:
-                      menentukan tujuan
-                      menentukan pengalaman belajar
-                      mengorganisasi pengakaman belajar
-                      evaluasi
2. Model Taba
Menurut Hilda Taba sebaiknya kurikulum dikembangkan secara terbalik, yaitu dengan pendekatan induktif. Ada 5 langkah pengembangan model Taba, yaitu:
-                      menghasilkan unit-unit percobaan
-                      menguji coba unit eksperimen untuk memperoleh data yang valid
-                      merivisi unit eksperimenberdasarka data yang didapat
-                      mengembangka keseluruhan kerangka kurikulum
-                      implementasi dan diseminasi kurikulum yang telah teruji
3. Model Oliva
Menurut Oliva suatu model kurikulum harus bersifat simpel, komprehensif dan sistematik. Menurutnya model ini dapat dikembangkan kedalam 3 dimensi, yaitu:
-                      penyempurnaan kurikulum sekolah dalam bidang-bidang khusus
-                      membuat keputusan dalam merancang program kuriklum
-                      mengembangka program pembelajaran
  1. Model Beauchamp
Beauchamp mengatakan ada 5 langkah dalam proses pengembangan kurikulum, yaitu:
-                      menetapkan wilayah yang akan melakukan suatu perubahan kurikulum
-                      menetapkan orng-orang yang terlibat dalam proses pengembangan kurikulun
-                      menetapkan prosedur yang aka ditempuh
-                      implementasi kurikulum
-                      melaksanakan evaluasi kurikulim
  1. Model Wheeler
Menurut Wheeler pengembangan kurikulum merupakan suatu proses yan membentuk lingkaran yang terjadi terus-menerus. Menurutnya ada 5 tahap pengembanga kurikulum, yaitu:
-                      menentukan tujuan umum dan tujuan khusus
-                      menentuka pengalaman belajar siswa
-                      menentukan isi atau materi sesuai dengan pengalaman
-                      mengorganisasi pengalaman belajardengan isi atau materi belajar
-                      melakukan evaluasi
6. Model Nichools
Howard Nichools mengatakan bahwa oendekatan pengembangan kurikulum terdiri atas elemen-elemen kurikulum yang membentuk siklus. Ada 5 langkah pengembangannya, yaitu:
-                      analisis situasi
-                      menentukan tujuan khusus
-                      menentukan dan mengorganisasi isi pelajaran
-                      menentukan dan mengorganisasi metode
-                      evaluasi
7. Model Dynamic Skilbeck
Menurut Skilbeck model dynamic adlah mode pengembangan kurikulum pada level sekolah. Dan langkah-langkahnya yaitu:
-                      menganalisis situasi
-                      memformulasikan tujuan
-                      menyusun program
-                      interpretesi dan implementasi
-                      monitoring, feedback, penilaian, dan rekonstruksi

BAB V
PENGEMBANGAN TUJUAN DAN ISI KURIKULUM
  
A. Pendahuluan
Sistem kurikulum terbentuk oleh 4 komponen, yaitu:
-                      tujuan
-                      isi kurikulum
-                      metode
-                      evaluasi

B. Pengembangan tujuan kurikulum
Perumusan tujuan merupakan salah satu komponen yang sangat penting dala sebuah kurikulm
1. Klasifikasi tujuan
Menurut Bloom bentuk perilaku sebagai tujuan yang harus dirumuskan dapat digolongkan kedalam 3 domain, yaitu:
-                      Domain kognitif
a. pengetahuan                                    d. analisis
b. pemahaman                         e. sintesis
c. penerapan                            f. evaluasi
-                      Domain afektif
a. penerimaan                          d. mengorganisasi
b. merespons                           e. Karakterisasi nilai
c. menghargai
-                      Domain psikomotor
a. gerak refleks                        d. Ketermpilan fisik
b. keterampilan dasar              e. Gerakan keterampilan
c. ketermpilan perseptual        f. Komunikasi nondiskurtif
2. Haerarkis tujuan
Dilihat dari haerarkis tujuan pendidikan terdiri atas tujuan umum dan husus yang bersifat spesifik dan dapat diukur dan diklasifikasikan menjadi 4, yaitu:
-                      tujuan pendidikan nasional (TPT)
-                      tujuan institusional (TI)
-                      tujuan kurikuler (TK)
-                      tujuan instruksional atau tujuan pembelajaran (TP)

C. Pengembangan materi kurikulum
Bahan atau materi kurikulum adalah isi atau muatan kurikulum yang harus dipahami siswa dalam upaya mencapai tujuan kurikulum.
1. Sunber-sumber kurikulum adalah:
-                      masyarakat beserta budayanya
-                      siswa
-                      ilmu pengetahuan
2. Tahap penyeleksian materi kurikulum adalah:
-                      identifikasi kebutuhan
-                      mendapatkan bahan kurikulum
-                      analisis bahan
-                      penilaian bahan kurikulum
-                      membuat keputusan mengadopsi bahan
3. Jenis-jenis materi kurikulum yaitu:
-                      fakta
-                      konsep
-                      prinsip
-                      hukum
-                      keterampilan
4. Kriteria penerapan ateri kurikulum yaitu:
-                      tingkat kematangan siswa
-                      tingkat pengalaman anak
-                      tingkat kesulitan materi
BAB VI
HAKIKAT KURIKULUM TINGKAT SATUAN PENDIDIKAN (KTSP)

A. Pengertian dan karakteristik KTSP
Dalam standar Nasional Pendidikan (SNP Pasal 1, Ayat 15) bahwa KTSP adalah kurikulum operasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing-masing satuan pendidikan yang disusun oleh satuan pendidikan dan dikembangkan oleh Badan  Standar Nasional Pendidikan (BSNP).
KTSP memiliki karakteristik, yaitu:
-                      kurikulum yang berorientasi pada disiplin ilmu
-                      kurikulum yang berorientasi pada pengembangan individu
-                      kurikulum yang mengakses kepentingan daerah
-                      kurikulum teknologis

B. Tujuan KTSP
Dan tujuannya secara khusus yaitu:
-                      meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah dalam mengembangkan kurikulum, mengelola, memberdayakan sumber daya yang tersedia
-                      menungkatkan kepedulian warga sekolah dan masyarakat dalam pengembangan  kurikulum melalui pengambilan keputsan bersama
-                      meningkatkan kompetensi yan sehat antar satuan pendidikan tentang kualitas pendidikan yang akan dicapai

C. Dasar penyusunan KTSP
Pengembangan KTSP didasarkan pada 2 landasan pokok, yakni landasan empiris dan landasan formal. Yang menjadi landasan empirik antaranya adalah
-                      adanya kenyataan rendahnya kualitas pendidikan kitabaik dari proses ataupun hasil
-                      indonesia adalah negara yang sangat luas yang memiliki keragaman sosial budaya dengan potensi dan kebutuhan yang berbeda
-                      peran sekolah dan masyarakat dalam pengembangan kurikulum bersifat pasif.
-                      Yang menjadi landasan formal, KTSP disusun dalam rangka memenuhi amanat yang tertuang dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendididkan Nasional dan Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan.

D. Prinsip-prinsip pengembangan KTSP
-                      berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik, dan lingkungannya
-                      beragam da terpadu
-                      tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni
-                      relevan dengan kebutuhan kehidupan
-                      menyeluruh dan berkesinambungan
-                      belajar sepanjang hayat
-                      seimbang antara kepentinga Nasional dan kepentingan daerah

E. Komponen KTSP
Sebagai sebuah pedoman KTSP terdiri atas 4 komponen, yakni:
-                      Tujuan pendidikan tingkat satuan pendidikan dasar dan menengah dirumuskan mengacu pada tujuan umum pendidikan.
-                      Struktur program dan muatan kurikulum pendidikan dasar dan menengah tertuang dalam SI meliputi 5 kelompok mata pelajaran ( agama dan akhlak mulia, PKn dan kepribadian, IPTEK, estetika, dan jasmani kesehatan )
-                      kalender pendidikan
-                      silabus dan RPP

F. Proses penyusunan KTSP
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menyusun KTSP, yaitu:
-                      analisis konteks
-                      mekanisme penyusunan
-                      kegiatan
-                      pemberlakuan


BABVII
PENGEMBANGAN DOKUMEN KTSP


            Struktur KTSP terdiri atas 2 dokumen, yaitu:
  1. Dokumen satu tentang acuan pengembangan KTSP, secara lengkap dokumen tersebut adalah sebagai berikut:
BAB I. Pendahuluan
A.  Latar Belakang dan Dasar Pengembangan
B.  Tujuan Pengembangan dan Fungsi KTSP
C.  Prinsip-prinsip Pengembangan KTSP
BAB 2. Tujuan pendidikan
A.  Tujuan Pendidikan
B.  Visi dan Misi Sekolah
C.  Misi Sekolah
BAB 3. Stuktur dan Muatan Kurikulum
A.  Mata pelajaran
B.  Muatan Lokal
  1. Kegiatan Pengembangan Diri
D.  Pengaturan Beban Belajar
E.  Ketuntasan Belajar
F.  Kenaiakan Kelas dan Kelulusan
G.  Penjurusan
H.  Pendidikan Kecakapan Hidup
I.   Pendidikan Berbasis Keunggulan Lokal dan Global
BAB 4.  Kalender Pendidikan
A.  Minggu, hari dan jam efektif
B.  Program Tahunan
C.  Program semester
2. Dokumen dua berisi tentang silabus mata pelajaran berisi tentang silabus dan RPP.
Silabus adalah rancangan program pembelajaran satu atau kelompok mata pelajaran yang berisi tentan standar kompetensi. Manfaatnya sebagai pedoman dalam menyusun pelaksaan pembelajaran. Prinsip- prinsipnya yaitu:
-                      ilmiah                                      -  memadai
-                      relevan                                     -  aktual dan konstektual
-                      sistematis                                 -  fleksibel
-                      konsisten                                 -   menyeluruh
RPP adalah program perencanaan yang disusun sebagai pedoman pelaksanaan pembelajaran untuk setiap kegiatan proses pembelajaran. Komponen-komponen RPP yaitu:
-                      tujuan pembelajaran
-                      materi atau isi
-                      strategi dan metode pembelajaran
-                      media dan sumber belajar
-                      evaluasi

BAB VIII
SISTEM PEMBELAJARAN

A. Pengertian dan kegunaan sistem pembelajaran
Sistem adalah satu kesatuan komponen yang satu sama lain saling berkaitan dan saling berinteraksi untuk mencapai suatu hasil yang diharapkan secara optimal sesuai dengan tujuan yang tela ditetapkan. 3 karakteristik sistem, yaitu:
-                      setiap sistem mempunyai tujuan
-                      sistem mengandung suatu proses
-                      melibatkan unsur-unsur tertentu
Manfaat sistem adalah untuk merancang atau merencanakan suatu proses pembelajaran.

B. faktor-faktor yang berpengaruh terhadap sistem pembelajaran
-                      faktor guru
-                      faktor siswa
-                      faktor sarana dan prasarana
-                      faktor lingkungan

C. Komponen-komponen sistem pembelajaran
Komponen-komponen tersebut yaitu:
-                      tujuan
-                      materi pelajaran
-                      metode atau strategi pembelajaran
-                      media
-                      evaluasi

BAB IX
MENGAJAR DAN BELAJAR DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM


A. Konsep dasar mengajar
1. mengajar sebagai proses penyampaian materi pelajaran, ia memiliki karakteristik:
-                      proses pengajaran berorientasi pada guru (teacher centered)
-                      siswa sebagai objek belajar
-                      kegiatan pengajaran terjadi pada tempat dan waktu tertentu
-                      tujuan utama pengajaran adalah penguasaan materi pelajaran
2. mengajar sebagai suatu proses mengatur lingkungan
-                      mengajar berpusat pada siswa
-                      siswa sebagai subjek belajar

B. Makna mengajar
Makna pembelajaran ditunjukkan oleh beberapa ciri sebagai berikut:
-                      pembelajaran adalah proses berpikir
-                      proses pembelajaran adalah memenfaatkan potensi otak
-                      pembelajaran berlangsung sepanjang hayat

C. Prinsip mengajar
-                      berorientasi pada tujuan
-                      aktivitas
-                      individualitas
-                      integritas
-                      interaktif
-                      inspiratif
-                      menyenangkan
-                      menantang
-                      motivasi

D. Makna belajar
-                      belajar sebagai proses perubahan tingkah laku
-                      bentuk dan hasil perbuatan belajar
Menurut Gagne ada 8 tipe perbuatan belajar, yaitu:
  1. belajar signal
2. belajar mereaksi perangsang meleluai penguatan
3. belajar membentuk rangkaian
4. belajar asosiasi verbal
5. belajar membedakan hal yang majemuk
6. belajar konsep
7. belajar kaidah atau belajar prinsip
8. belajar memecahkan masalah
dan menurutnya ada 5 tipe hasil balajar, yaitu:
  1. belajar kemahiran intelektual
  2. belajar informasi verbal
  3. belajar mengatur kegiatan intelektual
4.               belajar sikap
5.               belajar keterampilan motorik

D. Teori-teori belajar
Berangkat dari konsep manusia yang berbeda, dalam menjelaskan terjadinya perilaku, kedua aliran teori belajar yaitu aliran behavioristik elementeristik, dan aliran kognitif wholistik, memiliki perbedaan.
1. Teori Belajar Behavioristik
ciri-cirinya, yaitu:
-                      mementingkan pengaruh lingkungan
-                      mementingkan bagian-bagian
-                      mengutamakan peranan reaksi
-                      hasil belajar terbentuk sacara mekanis
-                      dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu
-                      mementingkan pembentukan kebiasaan
-                      memecahkan masalah dengan cara trial and error
-                      Yang termasuk kedalam aliran behavioristik adalah:
-                      koneksionisme tokohnya Thorndike
-                      clasical conditioning tokohnya Pavlop
-                      operant conditioning tokohnya Skinner
-                      systematic behavior Tokohnya Hull
-                      contigous conditioning tokohnya Guthe
2. Teori belajar kognitif
ciri-cirinya adalah:
-                      mementingkan apa yang ada dalam diri
-                      mementingkan keseluruhsn
-                      mengutamakanfunsi kognitif
-                      terjadi keseimbangan dalam diri
-                      tergantung pada kondisi saat ini
-                      mementingkan terbentuknya fungsi kognitif
-                      memecahkan masalah dengan cara insight
Teori-teori yang termasuk kedalam kelompok kognitif wholistik yaitu:
-                      teori gestalt tokohnya Kofka, Kohler, Wertheimer
-                      teori medan tokohnya Lewin
-                      tepri organismik Tokohnya Wheeler
-                      teori humanistik tokohnya Maslow dan Rogers
-                      teori konstrutivistik


BAB X
FAKTOR PSIKOLOGIS DALAM PEMBELAJARAN

A. Motivasi
1. Pengertian dan fungsi motivasi
motivasi adalah suatu perubahan energi dalam diri manusia yang ditandai oleh munculnya perasaan dan reaksi untuk mencapai tujuan. Fungsi motivasi yaitu:
-                      mendorong siswa untuk beraktivitas
-                      sebagai pengarah
2. motivasi dan kebutuhan
Morgan menjelaskan kebutuhan siswa sebagai pedoman aktivitas sebagai berikut:
-                      kebutuhan diri sendiri sebagai penggerak kegiatan itu sendiri
-                      kebutuhan karena orang lain
-                      kebutuhan untuk mencapai hasil
-                      kebutuhan untk mengatasi kesulitan
3. Jenis-jenis motivasi
Pembagian motivasi dapat dilihat dari:
-                      perspektif kebutuhan
-                      perspektif fungsional
-                      sifat motivasi
4. Kepuasan dan motivasi
Kondisi yang dapat dilakukan untuk memberikan kepuasan pada siswa yang dapat mendorong untuk berperilaku baik, yakni:
-                      imbalan hasil belajar
-                      rasa aman dalam belajar
-                      situasi lingkungan belajar
-                      kesempatan untuk mengembangkan diri
5. Prinsip-prinsip motivasi belajar
-                      pujian lebih efektif daripada hukuman
-                      psikologis yang bersifat dasar
-                      dorongan yang muncul dari dalam
-                      respon siswa yang sesuai dengan tujuan
-                      mudah menular pada orang lain
-                      pemahaman siswa yang telas terhadap tujuan
-                      minat siswa untuk menyelesaikan tugas
-                      berbagai macam penghargaan
6. Upaya membangkitkan motivasi belajar siswa
-                      memperjelas tujuan yang ingin dicapai
-                      membangkitkan minat siswa
-                      menciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar
-                      berilah pujian yang wajar
-                      berikan penilaian
-                      berikan komentar
-                      ciptakan persaingan dan kerjasama

B. Pengamatan dan perhatian
Dalam aktivitas pembelajaran di sekolah, guru harus menciptaka agar siswa dapat melakukan pengamatan sebaik-baiknya agar tidak terjadi kesalahan dalam menapsirkan pengamatannya. Untuk itu ada beberapa hal yang dapat dilakukan yaitu:
-                      membangun struktur yang jelas
-                      mendekatkan siswa pada hal tang harus dipelajari
-                      menghubungkan aspek yang di pelajari dengan pengalaman nyata siswa
-                      dalam proses pembelajaran guru harus menyelesaikan bahan pelajaran dengan tingkat perkembangan siswa
-                      hindari hal-hal yang dapat mengganggu proses pengamatan
Bagi guru, meningkatkan perhatian siswa bisa dilakuka dengan beberapa cara, yaitu:
-                      penggunaan variasi suara
-                      pemusatan perhatian
-                      kebisuan guru
-                      mengadakan kontak pandang
-                      gerak guru
-                      variasi dalam penggunaan media dan alat pembelajaran
-                      variasi dalam berinteraksi

BAB XI
GURU DALAM PROSES PEMBELAJARAN

A. Meningkatkan Propesional Guru
-                      guru sebagai jabatan profesional
-                      mengajar sebagai pekerjaan profesional
-                      kompetensi profesional guru
a. kompetensi pribadi
b. kompetensi profesional

B. Optimalisasi Peran Guru dalam Proses Pembelajaran
peran-peran tersebut yaitu:
-                      guru sebagai sumber belajar
-                      guru sebagai fasilitator
-                      guru sebagai pengelola
-                      guru sebagai demonstator
-                      guru sebagai pembimbing
-                      guru sebagai motivator
-                      guru sebagai evaluator

BAB XII
STRATEGI PEMBELAJARAN

A. Konsep Strategi Pembelajaran
Suatu strategi pembalajaran yang diterapkan guru akan tergantung pada pendekatan yang digunakan, sdangkan bagaimana menjalankan strategi itu dapat ditetapkan berbagai metode pembelajaran. Dalam upaya menjalankan metode pembelajaran guru dapat menentukan teknik yang dianggapnya relevan dengan metode, dan penggunaan teknik itu setiap guru memiliki taktik yang mungkin berbeda antarta guru yang satu dengan yang lain.

B. Pertimbangan dalam Pengembangan Strategi Pembelajaran
Ada  beberapa pertimbangan yang harus diperhatikan, yaitu:
-                      pertimbangan yang berhubungan dengan tujuan yang  ingin dicapai
-                      pertimbangan yang berhubungan dengan bahan atau materi pembelajaran
-                      pertimbangan dari sudut siswa
-                      dan pertimbangan lainnya yang ditinjau dari strategi itu sendiri

C. Beberapa Jenis Strategi Pilihan
  1. Strategi pembelajaran Ekspositori (SPE) adalah strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses penyampaian materi secapa verbal dari guru kepada siswa dengan maksud agar siswa dapat menguasai materi pelajaran secara optimal. Prinsip-prinsipnya yaitu:
- berorientasi pada tujuan
- prinsip komunikasi
- prinsip kesiapan
- prinsip berkelanjutan
Prosedur SPE, yaitu:
- persiapan                                           – menyimpulkan
- penyajian                                           – mengaolikasikan
- krelasi
  1. Strategi pembelajaran inkuiri (SPI) adalah rangkaian kegiatan pembelajaran yang menekankan pada proses berpikir secara kritis dan analitis untuk mencari dan menemukan sendiri jawaban yang sudah pastu dari suatu masalah yang dipertanyakan. Prinsipnya:
- berorientasi pada pengembangan intekektual
- prinsip berinteraksi
- prinsip bertanya
- prinsip belajar untuk berpikir
- prinsip keterbukaan
Langkah-langkahnya:
- orientasi                                            – merumuskan masalah
- merumuskan hipotesis                       – mengumpulkan data
- menguji hipotesis                  – merumuskan kesimpulan
  1. Strategi pembelajaran Koopertif (SPK) adalah model pembelajaran dengan menggunakan sistem pengelompokkan. Prinsipnya yaitu:
- prinsip ketergantungan positif
- tanggung jawab perseorangan
- interaksi tatap muka
- partisipasi dan komunikasi
langkah-langkah SPK:
- penjelasan materi                              – penilaian
- belajar dalam kelompok                                – pengakuan tim



BAB XIII
INOVASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

A. Pengertian Inovasi
Inovasi kurikulum dan pembelajaran dapat diartikan sebagai suatu ide, gagasan atau tindakan-tindakan tertentu dalam bidang kurikulum dan pembelajaran yang dianggap baru untuk memecahkan masalah pendidikan.

B. Masalah Pendidikan sebagai Sumber Inovasi
1. Masalah relevansi pendidikan
- relevansi pendidikan dengan lingkungan hidup siswa
- relevansi pendidikan dengan tuntutan kehidupan siswa
- relevansi kehidupan dengan dunia kerja
2. Masalah kualitas pendidikan
Rendahnya kualirtas pendidikan dapat dilihat dari dua sisi, yaitu:
-                      sisi proses adalah adanya anggapan bahwa salama ini proses pendidikan yang dibangun guru dianggap cenderung terbatas.
-                      Sisi hasil yaitu rendahnya kualitas pendidikan dilihat dari tidak meratanya setiap sekolah dalam mencapai rata-rata nilai ujian nasional.
3. Masalah efektiviras dan efesiensi
Suatu program pembelajaran dapat dikatakan memiliki tingkat efesiensi tinggi, manakala dengan jumlah biaya yang minimal dapat menghasilkan atau dapat mencapai tujuan yang maksimal.
4. Masalah daya tampung terbatas
Pemecahannya pemerintah harys melakukan langkah-langkah yan inovatif, yaitu langkah yang dapat menyediakan kesempatan belajar seluas-luasnya untuk mereka dengan biaya yang rendah tanpa mengurangi  mutu pendidikan.

C. Difusi dan Keputusan Inovasi
Difusi adalah proses komunikasi atau saling tukar informasi tentang suatu bentuk inovasi antara warga masyarakat sasaran sebagai penerima inovasi dengan menggunakan saluran tertentu dan dalam waktu teryentu pula. Ada 2 bentuk difusi, yaitu difusi sentralisasi dan difusi desentralisasi.
Ibrahim(1988) menyatakan ada 3 tipe keputusan penerimaan  penerimaan inovasi, yaitu:
-                      keputusan inovasi opsional adalah keputusan yang ditentukan oleh individu secara mandiri tanpa adanya pengaruh dari orang lain
-                      keputusan inovasi kolektif adalah keputusan yan didasarkan oleh kesepakatan bersama dari setiap kelompok masyarakat.
-                      Keputusan inovasi otoritas adalah keputusan untuk menerima atau menolak suatu inovasi.

D. Hambatan-hambatan Inovasi
Ibrahim(1988) mencatat ada 6 faktor utama yan dapat menghambat suatu inovasi, yaitu:
-                      estimasi yang tidak tepat
-                      konflik dan motivasi
-                      inovasi tidak berkembang
-                      masalah finansial
-                      penolakan dari kelompok tertentu
-                      kurang adanya hubungan sosial

E. Berbagai Jenis Inovasi dalam Kurikulum dan Penbelajaran
Beberapa pembaruan (inovasi) yang telah dilakuka, antara lain:
-                      pemberlakuan KTSP
-                      penyelenggaraan sekolah lanjutan tingkat terbuka
-                      pengajaran melalui modul
-                      pembelajaran melalui komputer


BAB XIV
EVALUASI KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN

A. Evaluasi dan Pengukuran
1. Makna evaluasi dan pengukuran
Guba dan Lincoln mendefinisikan evaluasi adalah proses memberikan pertimbangan mengenai nilai dan arti sesuatu yang dipertimbangkan. Dan pengukuran adalah proses pengumpulan data yang diperlukan dalam rangka memberikan judgment yakni berupa keputusan terhadap sesuatu.
2. Fungsi evaluasi
-                      umpan balik bagi siswa
-                      untuk mengetahui ketercapain siswa dari tujuan
-                      nformasi mengembangkan kurikulum
-                      untuk pengambilan keputusan
3. Tipe evaluasi
Evaluasi selalu berhubungan dengan 2 fungsi, yaitu:
-                      fungsi sumatif yaitu apabila evaluasi digunakan untuk melihat keberhasilan suatu program yang direncanakan
-                      fungsi formatif yang dilakukan selama proses pembelajaran berlangsung untuk melihat kemajuan belajar siswa

B. Evaluasi Kurikulum
1. Makna evaluasi kurikulum
evaluasi kurikulum pada dasarnya adalah sebagai suatu proses mengumpulkan berbagai informasi dalam rangka membuat sesuatu keputusan tentang program pendidikan.
2. Ruang lingkup evaluasi kurikulum
-                      evaluasi kurikulum sbagai suatu program atau dokumen
a. evaluasi tujuan pendidikan
b. evaluasi terhadap isi kurikulum
c. evaluasi terhadap strategi pembelajaran
d. evaluasi terhadap proram penilaian
-                      evaluasi pembelajaran sebagai implementasi kurikulum

C. Evaluasi Berbasis Kelas
1. Pengertian
penilaian berbasis kelas merupakan bagian integral dalam proses pembelajaran  yang dilakukan sebagai proses pengumpulan dan pemanfaatan informasi yang menyeluruh tentang hasil belajar yang diperoleh siswa untuk menetapkan tingkat pencapaian dan penguasaan kompetensi seperti yang ditentukan dalam kurikulum da sebagai umpan balik untuk perbaikan proses pembelajaran.
2. prinsip-prinsip penilaian berbasis kelas
-                      motivasi                                               – validitas
-                      adil                                                      – terbuka
-                      berkesinambungan                              – bermakna
-                      menyeluruh                                         – edukatif

D. Jenis-jenis Evaluasi
-                      tes
-                      non tes, seperti:
a. observasi
b.wawancara
BAB XV
PENILAIAN PORTOFOLIO

A. Pengertian
Penilaian portofolio adalah penilaian terhadap karya-karya siswa selama proses pembelajaran yang tersusun secara sistematis dan terorganisasi yang dikumpulkan salam a priod tertentu dan digunakan untuk mementau perkembangan siswa baik mengenai pengetahuan , keterampilan maupaunsikap siswa terhadap mata pelajaran yang bersangkutan.

B. Perbedaan tes dan portofolio
1. tes
-                      dilakukan untuk menilai kemampuan intlektual siswa
-                      peran guru sangat dominan
-                      kriteria penilaian satu untuk semua
-                      keputusan berdasarkan guru
2. portofolio
-                      dilakukan untuk menilai kemampuan intelektual, minat sikap dan keterampilan siswa
-                      peserta didik ikut berperan
-                      kriteria penilaian ditentukan dengan karakteristik siswa
-                      keputusan dilakukan secara kolaboratif antara orang tua, siswa, dan guru

C. Prinsip-prinsip penilaian portofolia
-                      saling percaya
-                      keterbukaan
-                      kerahasiaan
-                      milik bersama
-                      kepuasan dan kesesuaian
-                      budaya pembelajaran
-                      refleksi
-                      berorientasi padaproses hasil

D. Keunggulan dan Kelemahan Portofolio
Keunggulan:
-                      dapat menilai kemampuan siswa secara menyeluruh
-                      dapat menjamin akuntabilitas
-                      penilaian yan bersifat individual
-                      penilaian yang terbuka
-                      bersifat self evaluation
Kelemahannya, yaitu:
-                      memerlukan waktu dan kerja keras
-                      memerlukan perubahan cara pandang
-                      memerlukan perubahan gaya belajar
-                      memerlukan sistem pembelajaran

E. Tahapan Pelaksaan Portofolio
-                      menentukan tujuan portofolio
-                      penentuan isi portofolio
-                      menentukan kriteria dan format penilaian
-                      pengamatan dan penentuan bahan portofolio
-                      menyusun dokumen portofolio